Selasa, 09 Desember 2014

"Tujuh Purnama Menantimu" (Nurul Khikmah)

*tujuh purnama menantimu*

matahari mulai menuruni singgasananya menawarkan mega merah diufuk barat... dua insan sedang duduk santai di lapangan nan luas di ujung bukit.
Rifa : "sudahlah Nes, cari saja yang lain."
neska :"tak semudah itu Rif." (sambil tertunduk lesu memainkan ujung kemeja merahnya).
keduanya terdiam "sepi" seolah merasakan tamparan angin yg datang sambil memandang hamparan padang ilalang yang ikut tertampar angin
Rifa :"kenapa sih kamu masih bertahan dengan dia yang sudah jelas-jelas buat kamu nangis. apa istimewanya dia." (gerutu Rifa dengan tatapan nanar)
Neska masih saja terdiam tanpa memperdulikan Rifa.
Rifa : "Nes..!!! (dengan nada membentak seraya memegangi lengan neska). dengerin aku..!!"
tiba-tiba Neska menatapnya dan memeluknya dengan isak tangis yang tak terbendung lagi. air matanya jatuh di dada bidang Rifa.
Rifa: "maafin aku (sambil membelai rambut Neska) aku ngelakui ini karena aku sayang kamu"
Neska:"tapi aku belum bisa menerima mu Rif. hatiku masih untuknya." (ucapnya sambil terisak). dia berjanji pada purnama ketujuh, dia akan datang Rif. (senyum kecilnya terlihat diujung bibirnya)
Rifa: "sadarlah Nes..!! dia itu sudah meninggal Nes. dia tidak akan mungkin kembali.. ucapnya lirih.
_karya Hikmah, pemalang 23 Mei 1991. Unsiq.
mohon saran dan masukan teman-teman semua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar