“Pelangi di Ujung Senja”
“Aaa… Jangan Pak, bentar lagi, udah hampir selese” dengan nada melas.
“Gantian..! Bapak capek dari tadi kerja, gausah rewel..!”
Aku mendengar suara bentakan bersumber di ruang tengah dari dapur ketika aku tengah mencuci piring. Sejenak,terdengar suara larian kecil dari ruang tengah mendekat.
“Embaaak..” Aya berlari memelukku dari belakang, tak memperdulikan bajuku yang agak basah karena terciprat air dari cucian piring.
“Aya kenapa? Mas Reza nakal?” aku mematikan kran, meletakkan piring yang sudah kucuci di wastafel. Ku pandangi wajah adik manisku yang tengah terisak menahan tangis.
Aya menggeleng, menarik nafas panjang lalu melepas pelukan mungilnya di pinggangku.
“Loh? Lalu kenapa? Aya ngompol lagi? Apa susunya tumpah di karpet?” tanyaku sellidik.
Aya kembali menggeleng, kali ini dia mulai kuasa mengontrol nafasnya.
“Pengen nonton Mashaa…” ucapnya dengan suara pelan agak sedikit terisak di ujung kalimat pendeknya.
Aku mengerti, aku menggendongnya naik ke lantai dua, membaringkannya di bawah langit.
“Sudah baikan?”
Aya mengangguk, memandang langit selalu membuat perasaan menjadi lebih baik. Begitu kata Ibu. Dulu Ia pun melakukan hal yang sama ketika aku menangis. Ibu akan mengacung-acungkan jari telunjukknya kearah awan yang berjalan. Memintaku menebak bentuk awan yang bergumpalan di langit. Kuasa Tuhan menciptakan hamparan atap dunia yang tak berbatas menaungi anak-anak manusia di bawahnya, sebagai pembatas dunia dengan alam lain yang tak terjamah.
“Mbak, apa Ibu bahagia di langit sana?” tanyanya dengan tatapan lugu.
“Tentu saja Ibu bahagia. Disana, Ibu dekat dengan Tuhan, lihat Embak, Mas Reza, Bapak, lihat Aya dari atas sana” jawabku menghibur.
“Aya kangen sama Ibu Mbak..” suara hening mengikuti perkataan polosnya.
“Jadi Ibu temenan sama Allah Mbak? Berarti kalau Ibu berdoa pasti gampang dikabulkan kan?”
Aku mengangguk, mengusap air mata Aya yang belum sepenuhnya kering di ujung ujung matanya dengan tangan kananku.
“Loh? Aya ngapain?” tanyaku, menyaksikan aya menutup mata dan meletakkan kedua tangannya di dada.
Beberapa saat kemudian, Aya mengusapkan kedua telapak tangannya di wajah, mengahiri ritualnya.
“Aya?” sapaku memastikan.
“Aya baru bilang sama Ibu suruh bilang sama Allah, biar Allah bikin Bapak jadi baik sama kita, gak galakin Embak, Aya, sama Mas Reza lagi. Biar Aya di bisa nonton Mashaa lagi” jawabnya polos diikuti senyum penuh kepercayaan.
Aku memeluknya, mencium lembut dahinya, lalu kembali duduk memeluk lutut. Memandangi wajah malaikat kecil yang masih terpaku menatap elok langit menjingga.
Namanya Cahaya. Meskipun pipinya sering basah sesering kasurnya basah tiap pagi, namun seperti cahaya yang memantul dengan air menjadikannya pelangi yang megah di angkasa, seperti itulah dia, gadis mungilku yang ceria, yang tegar, yang kuat, tanpa bundadarinya.
“Gantian..! Bapak capek dari tadi kerja, gausah rewel..!”
Aku mendengar suara bentakan bersumber di ruang tengah dari dapur ketika aku tengah mencuci piring. Sejenak,terdengar suara larian kecil dari ruang tengah mendekat.
“Embaaak..” Aya berlari memelukku dari belakang, tak memperdulikan bajuku yang agak basah karena terciprat air dari cucian piring.
“Aya kenapa? Mas Reza nakal?” aku mematikan kran, meletakkan piring yang sudah kucuci di wastafel. Ku pandangi wajah adik manisku yang tengah terisak menahan tangis.
Aya menggeleng, menarik nafas panjang lalu melepas pelukan mungilnya di pinggangku.
“Loh? Lalu kenapa? Aya ngompol lagi? Apa susunya tumpah di karpet?” tanyaku sellidik.
Aya kembali menggeleng, kali ini dia mulai kuasa mengontrol nafasnya.
“Pengen nonton Mashaa…” ucapnya dengan suara pelan agak sedikit terisak di ujung kalimat pendeknya.
Aku mengerti, aku menggendongnya naik ke lantai dua, membaringkannya di bawah langit.
“Sudah baikan?”
Aya mengangguk, memandang langit selalu membuat perasaan menjadi lebih baik. Begitu kata Ibu. Dulu Ia pun melakukan hal yang sama ketika aku menangis. Ibu akan mengacung-acungkan jari telunjukknya kearah awan yang berjalan. Memintaku menebak bentuk awan yang bergumpalan di langit. Kuasa Tuhan menciptakan hamparan atap dunia yang tak berbatas menaungi anak-anak manusia di bawahnya, sebagai pembatas dunia dengan alam lain yang tak terjamah.
“Mbak, apa Ibu bahagia di langit sana?” tanyanya dengan tatapan lugu.
“Tentu saja Ibu bahagia. Disana, Ibu dekat dengan Tuhan, lihat Embak, Mas Reza, Bapak, lihat Aya dari atas sana” jawabku menghibur.
“Aya kangen sama Ibu Mbak..” suara hening mengikuti perkataan polosnya.
“Jadi Ibu temenan sama Allah Mbak? Berarti kalau Ibu berdoa pasti gampang dikabulkan kan?”
Aku mengangguk, mengusap air mata Aya yang belum sepenuhnya kering di ujung ujung matanya dengan tangan kananku.
“Loh? Aya ngapain?” tanyaku, menyaksikan aya menutup mata dan meletakkan kedua tangannya di dada.
Beberapa saat kemudian, Aya mengusapkan kedua telapak tangannya di wajah, mengahiri ritualnya.
“Aya?” sapaku memastikan.
“Aya baru bilang sama Ibu suruh bilang sama Allah, biar Allah bikin Bapak jadi baik sama kita, gak galakin Embak, Aya, sama Mas Reza lagi. Biar Aya di bisa nonton Mashaa lagi” jawabnya polos diikuti senyum penuh kepercayaan.
Aku memeluknya, mencium lembut dahinya, lalu kembali duduk memeluk lutut. Memandangi wajah malaikat kecil yang masih terpaku menatap elok langit menjingga.
Namanya Cahaya. Meskipun pipinya sering basah sesering kasurnya basah tiap pagi, namun seperti cahaya yang memantul dengan air menjadikannya pelangi yang megah di angkasa, seperti itulah dia, gadis mungilku yang ceria, yang tegar, yang kuat, tanpa bundadarinya.
Oleh : Nur Lailatul Khasanah 311014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar