NEVER GIVE UP
Semilir angin sejuk di pagi hari, terduduklah dia atas bukit seorang pemuda melamun sendiri. Terkenang olehnya kelalkuan nakalnya di masa silam , saat masih duduk di bangku SMA. Dengan tersenyum-senyum sendiri samb il melihat-lihat kembali foto-foto dan video nya sewaktu SMA bersama teman-teman segenknya. Mencoret-coret dinding-dinding tembok di pinggiran jalan adalah hobinya,tawuran juga kerap menjadi tradisi unik tersendiri baginya. Memalak dan menyakiti teman-temannya adalah sebuah hal yang biasa.Tak terbayang sebelumnya, sekarang dia berada dalam lingkungan yang amat berbeda dengan masa remajanya dulu. "Hei Yusuf.... ! Sedang apa dirimu disini sendirian ? Alif, teman satu saramanya memanggil. Setengah kaget, Yusuf menengok ke arah datangnya suara itu. "Ooh... ternyata kau Alif, bikin kaget aku saja kau. Kalau jantungku ini sampai copot, gimana coba? Apakah kau mau menggantikannya ?" geram Yusuf.
"Wauuww... janganlah kau naik darah dulu,kawan... slow aja. Dari tadi aku mencari-cari dimana gerangan sobatku yang tampan ini melangkahkan kakinya. Oh, ternyata disini rupanya. Apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan,kawan. Melamun saja kau ini." jelas Alif.
"Hahahaaa... ternyata tak tahan juga kau tak ada aku di sampingmu barang sedetik saja. " Gurau Yusuf.
" Jangan salah paham dulu.. diriku mencari-carimu karena ada suatu penyebabnya,kawan. Sssttt...diamlah dulu kau,kerana aku tau pasti kau mau tanya, kenapaaa???
Begini, pertama-tama aku datang kesini untuk mencarimu , karena waktu aku pulang kuliah tadi tak ada seorang pun yang terlihat. Yang kedua, karena aku memenuhi pesan Abah untuk mencarimu dan kau diminta untuk menghadapnya di ndalem.”Lantas, mengapa Abah mencariku?” Yusuf mengernyit penasaran. “Mungkin untuk lebih jelasnya, kau datang saja sekarang, tak usah banyak tanya padaku. Aku juga tak faham mengapa beliau mencarimu”. Jawab Alif
Dengan hati yang penuh tanya,Yusuf pun melangkahkan kakinya menuju ndalem .Dengan pelan-pelan Yusuf mengucapkan salam dengan lembut . Tak lama kemudian Abah membukakan pintu untuknya dan menyuruhnya masuk. “Benarkah kau santriku yang bernama Yusuf?”. Tanya Abah
“Iya,benar Abah. Nama sayaYusuf “ Jawab Yusuf penuh takdim.
“Aku memanggilmu kesini karena ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Begini, di setiap akhir bulan Oktober biasa diadakan lomba Santri Teladan antar pondok pesantren. Untuk itu aku menunjukmu sebagai wakil dari pondok Lirboyo ini. Karena menurutku kaulah yang pantas untuk mewakili perlombaan ini. Waktu perlombaan dilaksanakan hari Jum’at besok , dimulai ba’da sholat Jum’at di Gedung Satya Lencana. Bagaimana, bersediakah kamu untuk mewakilinya Yusuf?” tanya Abah dengan lembut dan berwibawa. Yusuf terdiam merenung, bingung harus menjawab ya atau tidak. Karena dia merasa tidak pantas untuk menjadi wakil di Perlombaan Santri Teladan tersebut. Dia mengingat masa lalunya yang begitu liar dan jauh dari pengawasan orang tuanya yang selalu sibuk dengan harta kekayaannya. Namun tidak mungkin sekali jika harus menolak tawaran ini. Seharusnya dia bersyukur telah ditunjuk sebagai wakil dari pondoknya.
Setelah beberapa kali dipikirkannya, Yusuf akhirnya menerima tawaran dari Abah. Mungkin ini adalah sebuah awal untuknya agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Beberapa hari kemudian, pada hari Jum’at ba’da sholat Jum’at di depan masjid teman-teman santrinya memberikan semangat dan dorongan pada Yusuf yang akan berjihad menuju perlombaan. Beberapa temannya mengantarkannya sampai ke tempat perlombaan dan menyaksikan jalaannya perlombaan sampai selesai. Sekitar 100 santri dari berbagai kota ikut beradu di dalam perlombaan. Yusuf sebenarnya agak kurang percaya diri , namun teman-temannya selalu dan selalu memompakan semangat untuknya sehingga acara pun akhirnya dimulai juga. Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan, barang siapa yang tidak bis menjawab bisa dilemparkan pada peserta lomba yang lain. Waktu terus bergulir sampai mendekati babak final. Tanpa disadari Yusuf mengikuti babak akhir tersebut. Lalu 5 menit kemudian saatnya diumumkan siapakah pemenang perlomaan tersebut. Yusuf sangat cemas, jika ia akan kalah mungkin ini sudah menjadi takdirnya dan jika menang ini semata-mata dipersembahkan untuk Abah yang telah menunjuknya sebagai wakil dan juga sebagai rasa terima kasih nya telah membimbing dan mengajari berbagai ilmu padanya selama ini. 1,2,3.Setelah kami nilai dan kami teliti jawaban-jawaban dari para peserta lomba, akhirnya kami sebagai juri menentukan satu diantara kalian yang pantas menjadi jawara. Kami panggilkan.... Ananda, berhenti sejenak. Hening menyelimuti ruangan.
”Yusuf Mahendra Kelana... Selamat, Anda terpilih menjadi juara di perlombaan Santri Teladan Tingkat Nasional kali ini. Silahkan maju!” . Yusuf pun berdiri dan maju dan langsung bersujud syukur dan mengucap khamdalah berkali-kali.Rasa bahagianya tak bisa ia gambarkan, hingga setetes air mata terjatuh di pipinya. Teman –teman santrinya langsung menghambur menyambut Yusuf dan mengucapkan selamat padanya telah dinobatkan sebagai juara dan dapat membawa nama baik pesantrennya. Yusuf tak menduga sebelumnya jika memenangkan perlombaan ini dia akan menjadi wakil di tingkat internasional selanjutnya di Turki dan jika dapat menjadi 5 besar dia akan mendapatkan beasiswa di Cairo,Mesir dan sekaligus mendapat hadiah umroh untuk dirinya dan keluarganya. Betapa senangnya dia mendengar kabar tersebut. Semangatnya pun kini kembali menggebu agar dapat menjadi 5 besar di perlombaan nanti sehingga dia dapat mewujudkan cita-cita membawa keluarga besarnya ke tanah suci. Ia ingin Ayahnya dapat normal seperti orang lainnya setelah depresi karena bisnis besarnya mengalami kebangkrutan dan gulung tikar. Ia berharap Ayahnya dapat sembuh kembali.
Semua do’a-do’a dan harapannya kini terkabul, Ayahnya sembuh seperti sedia kala dan ia meraih juara pertama dalam perlombaan di tingkat internasional itu. Sekarang Yusuf sadar, ia harus tetap semangat dalam menjalani kehidupannya dan jangan pesimis karena masa lalunya. Kesuksesan bukan hanya berawal dari sebuah kegagalan, tetapi juga berawal dari masa lalu yang kelam dan gelap. Jadi, dalam hati Yusuf sekarang tak ada lagi kata ‘pesimis’ ataupun minder menjalani hidupnya kini yang sangat berlawanan jauh dari masa lalunya. Never give up adalah motto hidupnya.
"Wauuww... janganlah kau naik darah dulu,kawan... slow aja. Dari tadi aku mencari-cari dimana gerangan sobatku yang tampan ini melangkahkan kakinya. Oh, ternyata disini rupanya. Apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan,kawan. Melamun saja kau ini." jelas Alif.
"Hahahaaa... ternyata tak tahan juga kau tak ada aku di sampingmu barang sedetik saja. " Gurau Yusuf.
" Jangan salah paham dulu.. diriku mencari-carimu karena ada suatu penyebabnya,kawan. Sssttt...diamlah dulu kau,kerana aku tau pasti kau mau tanya, kenapaaa???
Begini, pertama-tama aku datang kesini untuk mencarimu , karena waktu aku pulang kuliah tadi tak ada seorang pun yang terlihat. Yang kedua, karena aku memenuhi pesan Abah untuk mencarimu dan kau diminta untuk menghadapnya di ndalem.”Lantas, mengapa Abah mencariku?” Yusuf mengernyit penasaran. “Mungkin untuk lebih jelasnya, kau datang saja sekarang, tak usah banyak tanya padaku. Aku juga tak faham mengapa beliau mencarimu”. Jawab Alif
Dengan hati yang penuh tanya,Yusuf pun melangkahkan kakinya menuju ndalem .Dengan pelan-pelan Yusuf mengucapkan salam dengan lembut . Tak lama kemudian Abah membukakan pintu untuknya dan menyuruhnya masuk. “Benarkah kau santriku yang bernama Yusuf?”. Tanya Abah
“Iya,benar Abah. Nama sayaYusuf “ Jawab Yusuf penuh takdim.
“Aku memanggilmu kesini karena ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Begini, di setiap akhir bulan Oktober biasa diadakan lomba Santri Teladan antar pondok pesantren. Untuk itu aku menunjukmu sebagai wakil dari pondok Lirboyo ini. Karena menurutku kaulah yang pantas untuk mewakili perlombaan ini. Waktu perlombaan dilaksanakan hari Jum’at besok , dimulai ba’da sholat Jum’at di Gedung Satya Lencana. Bagaimana, bersediakah kamu untuk mewakilinya Yusuf?” tanya Abah dengan lembut dan berwibawa. Yusuf terdiam merenung, bingung harus menjawab ya atau tidak. Karena dia merasa tidak pantas untuk menjadi wakil di Perlombaan Santri Teladan tersebut. Dia mengingat masa lalunya yang begitu liar dan jauh dari pengawasan orang tuanya yang selalu sibuk dengan harta kekayaannya. Namun tidak mungkin sekali jika harus menolak tawaran ini. Seharusnya dia bersyukur telah ditunjuk sebagai wakil dari pondoknya.
Setelah beberapa kali dipikirkannya, Yusuf akhirnya menerima tawaran dari Abah. Mungkin ini adalah sebuah awal untuknya agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Beberapa hari kemudian, pada hari Jum’at ba’da sholat Jum’at di depan masjid teman-teman santrinya memberikan semangat dan dorongan pada Yusuf yang akan berjihad menuju perlombaan. Beberapa temannya mengantarkannya sampai ke tempat perlombaan dan menyaksikan jalaannya perlombaan sampai selesai. Sekitar 100 santri dari berbagai kota ikut beradu di dalam perlombaan. Yusuf sebenarnya agak kurang percaya diri , namun teman-temannya selalu dan selalu memompakan semangat untuknya sehingga acara pun akhirnya dimulai juga. Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan, barang siapa yang tidak bis menjawab bisa dilemparkan pada peserta lomba yang lain. Waktu terus bergulir sampai mendekati babak final. Tanpa disadari Yusuf mengikuti babak akhir tersebut. Lalu 5 menit kemudian saatnya diumumkan siapakah pemenang perlomaan tersebut. Yusuf sangat cemas, jika ia akan kalah mungkin ini sudah menjadi takdirnya dan jika menang ini semata-mata dipersembahkan untuk Abah yang telah menunjuknya sebagai wakil dan juga sebagai rasa terima kasih nya telah membimbing dan mengajari berbagai ilmu padanya selama ini. 1,2,3.Setelah kami nilai dan kami teliti jawaban-jawaban dari para peserta lomba, akhirnya kami sebagai juri menentukan satu diantara kalian yang pantas menjadi jawara. Kami panggilkan.... Ananda, berhenti sejenak. Hening menyelimuti ruangan.
”Yusuf Mahendra Kelana... Selamat, Anda terpilih menjadi juara di perlombaan Santri Teladan Tingkat Nasional kali ini. Silahkan maju!” . Yusuf pun berdiri dan maju dan langsung bersujud syukur dan mengucap khamdalah berkali-kali.Rasa bahagianya tak bisa ia gambarkan, hingga setetes air mata terjatuh di pipinya. Teman –teman santrinya langsung menghambur menyambut Yusuf dan mengucapkan selamat padanya telah dinobatkan sebagai juara dan dapat membawa nama baik pesantrennya. Yusuf tak menduga sebelumnya jika memenangkan perlombaan ini dia akan menjadi wakil di tingkat internasional selanjutnya di Turki dan jika dapat menjadi 5 besar dia akan mendapatkan beasiswa di Cairo,Mesir dan sekaligus mendapat hadiah umroh untuk dirinya dan keluarganya. Betapa senangnya dia mendengar kabar tersebut. Semangatnya pun kini kembali menggebu agar dapat menjadi 5 besar di perlombaan nanti sehingga dia dapat mewujudkan cita-cita membawa keluarga besarnya ke tanah suci. Ia ingin Ayahnya dapat normal seperti orang lainnya setelah depresi karena bisnis besarnya mengalami kebangkrutan dan gulung tikar. Ia berharap Ayahnya dapat sembuh kembali.
Semua do’a-do’a dan harapannya kini terkabul, Ayahnya sembuh seperti sedia kala dan ia meraih juara pertama dalam perlombaan di tingkat internasional itu. Sekarang Yusuf sadar, ia harus tetap semangat dalam menjalani kehidupannya dan jangan pesimis karena masa lalunya. Kesuksesan bukan hanya berawal dari sebuah kegagalan, tetapi juga berawal dari masa lalu yang kelam dan gelap. Jadi, dalam hati Yusuf sekarang tak ada lagi kata ‘pesimis’ ataupun minder menjalani hidupnya kini yang sangat berlawanan jauh dari masa lalunya. Never give up adalah motto hidupnya.
Oleh: Anggara Nisa 301014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar