Selasa, 09 Desember 2014

"Si Gembul" (Moriz Avisena)

Si Gembul
Gembul menatap langit dari celah pintu kamar kosnya, warna gelap yang terus menjatuhkan ribuan tetes hujan. Terkadang cahaya petir juga ikut muncul berpartisipasi. Dilihat dari keadaannya, sepertinya hujan masih akan terus membasahi bumi hingga beberapa jam ke depan. Tiap derai tetesnya berirama syahdu, seperti lagu instrumen yang kerap ia putar di komputer. Senada dengan tetesan air hujan yang konstan, mulutnya pun menguap. Kedua bola matanya tak bisa lagi diajak kompromi. Tapi sebesar apapun pengaruh bius yang ditebarkan sang hujan, namun Gembul memaksa diri tak boleh tertidur. Ia kini sedang duduk menghadapi setumpuk pakaian leceknya yang siap disetrika. Bahaya sekali meninggalkan setrika dalam keadaan mode on begitu, menyadari dirinya orang yang super ceroboh.
Ia gosok-gosokkan setrika maju mundur ke pakaian seragam sekolahnya sebagaimana tiap kali ia juga mengucek-ucek matanya yang mengantuk. Padahal ia sudah memakai penjepit jemuran segala untuk menangkal kantuknya. Tapi rupanya rasa kantuk jauh lebih menusuk daripada penjepit jemuran yang bersarang di kedua pipinya. Jika bukan karena ibu wali kelas yang menyuruh Gembul harus selalu tampil klimis, tentulah ia sudah memilih tidur sambil memeluk bantal guling. Biarlah seragam putih abu-abunya tetap tergeletak di pojok almari.
Tak habis-habisnya ia menggerutu. Menurutnya, wali kelas yang merangkap guru fisika itu memang galak, cerewet dan keterlaluan. Sedikit-sedikit menyinggung kerapian, lalu penampilan. Itu terus omelnya tiap ketemu. Apa beliau tak paham life style seseorang nggak boleh diatur? Biarkanlah mengalir alami. Ini namanya mengusik HAM, begitu pikiran di otak Gembul. Tapi realitanya, Gembul cukup patuh, buktinya ia sekarang belajar menyetrika pakaiannya sendiri. Ia ingin membuat guru bermulut duanya itu terkesan dengan penampilannya besok. Maklumlah, orang-orang visual macam gurunya itu memang harus disuguhi dengan penampilan yang super rapi. Kalau tidak, cerewetnya bisa luar biasa.
Ia benar-benar ngantuk berat. Tenaga Gembul perlahan mulai hilang. Genggaman tangannya di gagang setrika mulai melemas. Tluk! Tluk! Suara anggukan Gembul yang ketiduran. Entah sadar atau setengah sadar, Gembul lalu meletakkan setrikanya dalam posisi berdiri di atas meja lipatnya tanpa mencabut kabel. Ia masih berniat menyetrika lagi nanti. Nanti? Ya, sekarang Gembul ingin tidur barang sekejap. Mungkin setelah sepuluh menit ke depan, ia akan bangun lagi untuk menyetrika. Itung-itung mengumpulkan tenaga lagi, begitulah yang dipikirkannya. Gembul tahu, kalau bolak-balik mencabut setrika dan menghidupkannya lagi, dayanya tinggi sekali. Dan semakin tinggi daya yang digunakan, pembayaran listrik juga semakin naik. Tentu saja hal ini akan mengundang perhatian Ibu kos. Ibu kos Gembul juga kalau dalam hal marah-marah tak kalah gawatnya dengan gurunya.
Gembul akhirnya tertidur pulas. Sepuluh menit berlalu Gembul masih tertidur. Setengah jam berlalu Gembul masih saja belum bangun. Sampai akhirnya lewat satu jam pun, Gembul masih dibelai mimpi. Tidurnya keblabasan hingga akhirnya panggilan-panggilan panik menganggu pendengaran telinga Gembul.
“Mbul! Gembul! Bangun Mbul! Ada kebakaraaan!!!” seru orang-orang dari luar.
Gembul yang masih belum sadar sepenuhnya hanya bergumam, “Kebakaran apa? Kebakaran jenggot?”
Kedua matanya dikucek-kucek tapi malas untuk terbuka. Ia ingin kembali tidur, tapi terdengar teriakan-teriakan lain yang menyusul.
“Mbul! Keluar! Ada kebakaran!!!”
DRUK!!Sebuah bongkahan kayu panas jatuh mengenai punggungnya yang hanya memakai kaos saja, otomatis Gembul menjerit.“Waadaaaaw! Puanaaaas!”
Gembul mengusap-usap punggungnya sambil masih merintih. “Duh! Ini jatuh dari mana sih!? Kok ada balok kayu panas begini? Kebakaran apa……..nya……,” Gembul baru sadar dan melihat sekeliling kamarnya telah dilalap si jago merah. Berkobar memenuhi kamarnya. Tiba-tiba rasa panas menyengat dirinya.
Matanya langsung melotot. Mulutnya menganga tak percaya. Menunjuk-nunjuk tak karuan. “Gyaaaaaaaa…!!!”
Gembul panik. Digigitinya kuku-kuku tangannya. Sambil matanya bergerak ke kanan-kiri. Pemandangan yang mengerikan ini membuat aliran darahnya terus naik-turun. Suhu udara menjadi terasa begitu panas. Ia juga tak tahu apakah harus menerobos keluar ataukah hanya duduk menunggu pertolongan. Tapi, bila menunggu bantuan datang, mungkin sudah jadi ubi bakar dia setelah diselamatkan. Apalagi ini lantai dua.
“Huuufh!” tanpa pikir panjang lagi, ia lalu nekat menerobos ke luar. Blush! Gembul langsung berlari menuju tangga dan turun. Persentase keselamatan Gembul saat itu sangat rendah. Lantai-lantai yang sudah mengeropos dan tinggal robohnya itu benar-benar hancur setiap kali Gembul melangkah. Brur! Brur! Benar-benar seperti di film action saja. Gembul tetap cuek dan terus berlari menyelamatkan diri.
“Hah! Hah! Hah! Hah!” terdengar desahan nafas Gembul sesampainya di bawah.
Ia pun melihat beberapa anak kos yang lain sudah berada di bawah dan bersorak mengetahui dirinya selamat.
“Selamat juga kamu, Mbul! Nyaris hilang nyawamu tadi!” seru temannya.
Mereka pun mengucap syukur karena tak ada yang menjadi korban. Tapi tidak untuk rumah kos mereka yang ditelan ganasnya api. Tak lama kemudian, petugas pemadam kebakaran pun datang dan segera melakukan aksinya. Ditengah kebisingan masyarakat yang akhirnya berkumpul tanpa diundang, Gembul sempat melihat Ibu kos yang menangis lantaran rumahnya yang menjadi satu bangunan dengan kamar-kamar kos, hangus tak bersisa. Semua hartanya musnah kecuali kotak perhisasan yang sepertinya sempat Ibu kos selamatkan. Bapak kos terus menenangkan istrinya agar ikhlaskan saja semuanya, ini memang sudah suratan takdir untuk keluarga mereka. Mungkin saat tidur tadi secara tak sengaja telah menendang meja lipat dan menjatuhkan setrika tepat diatas gundukan pakaian-pakaiannya. Itu sepertinya masuk akal untuk dijadikan sebab bisa terjadi kebakaran yang tak terduga seperti ini. Gembul merasa menjadi sangat pusing. Perasaannya kini seperti mabuk darat. Ia pegangi kepalanya yang berkunang-kunang. Dan, Blugh! Akhirnya Gembul roboh tak sadarkan diri. Keadaan Gembul sekarang ini semakin membuat panik teman-temannya.
“Mbul! Gembul!” Teman-temannya menyokong berat Gembul. Gembul digoyang-goyang oleh temannya agar bangun dari pingsan. “Gembul! Bangun, Bul!”
“Gembul! Bangun, Mbul! Heh, Gembul!” seru salah satu temannya membangunkannya.
“Akhirnya sadar juga nih si gemblung!” sinis salah satu temannya setelah Gembul mulai membuka mata.
Cairan di otaknya belum sepenuhnya mengumpul menjadi satu. Gembul melihat sekeliling. Tumpukan pakaiannya yang belum sepenuhnya rapi, buku-buku yang berantakan, di sudut di bawah meja juga nampak bungkus nasi goreng yang belum dibuang, kamar yang berantakan ini tentu saja kamar ciri khas Gembul. Rupanya ia berada di kamarnya sendiri, kamar kos.
“Eh, dasar super ceroboh! Setrika masih nyala ditinggal tidur lagi! Kalau kebakaran gimana? Baru tahu rasa!”
“Iya, nih! Gimana sih! Untung kita bangunin.”
Teman-temannya satu persatu memarahi Gembul atas tidak hati-hatiannya. Syukurlah cuma mimpi, pikirnya. Gembul melihat kabel setrikanya sudah dicabut. Dengan senyuman tanpa rasa bersalah, ia lalu ngeles, “Ya maap, tadi tuh rencananya cuma pingin tidur barang semenit aja, terus bangun lagi buat nyetrika. Kan sayang watt-nya.”
Saat teman-teman Gembul ingin membalas ucapan darinya, ada sebuah panggilan nyaring dari bawah. “Anak-anak! Ayo, katanya mau bantuin…..! Ibu sama Bapak kerepotan nih…!”
Teman-teman Gembul langsung kasak-kusuk. Mereka baru ingat tujuan mereka ke kamar Gembul ini untuk membangunkan si anak sapi itu.
“Ada apaan sih emangnya?” tanya Gembul.
“Pokoknya turun aja dulu, nanti kamu tahu,” jawab temannya apa adanya.
Gembul dan lainnya bergegas turun dari lantai dua. Gembul berjalan paling terakhir. Setelah sampai di bawah, barulah ia tahu apa yang terjadi. Rupanya hujan tadi membuat banjir kecil di lingkungan rumahnya. Banjir yang mampir ke rumah mereka ini tingginya hanya semata kaki. Tapi, tetap saja merepotkan. Teman-teman Gembul lalu mendapat instruksi dari Bapak kos untuk memindahkan barang-barang furnitur. Dan yang lainnya bertugas menyapu air tanpa diundang ini ke luar. Semua bersibuk-sibuk ria tak terkecuali Gembul.

Oleh: Moriz Avisena 191014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar