Selasa, 09 Desember 2014

"Andai Aku Jadi Raja" (Khajad Purnommo)

"Andai Aku Jadi Raja"

Sepenggal cerita Sang Raja dan para Dwija-Dwijanya yang dihormati dan di panuti oleh semua rakyat dan prajuritnya.
Disebuah kerajaan yang sedang dilanda perang yang berkepanjangan terlihat ribuan prajurit kerajaan yang rela mengorbankan nyawa mereka demi kerajaan yang mereka cintai sedang di inspeksi oleh para Dwija kelengkapan seragam kerajaan yang rutin dilakukan oleh kerajaan karena akan menentukan identitas prajurit mereka. Diantara ribuan prajurit yang akan berangkat ke medan perang untuk mempertaruhkan nyawanya demi kaerajaan yang mereka cintai terdapat satu prajurit yang tidak memakai pelindung kepala khusus kerajaan. Dia langsung diseret oleh seorang Dwija keluar barisan dan langsung dihukum cambuk lima kali. Setelah itu sang Dwija bertanya kepada si prajurit yang tengah menahan sakit karena cambukan sang eksekusi yang kejam “dimana pelindung kepalamu? Kenapa tidak kau pakai? Itu merupakan identitas kerajaan kita, apa kau tidak tahu, ha?”
”Pelindung kepala hamba hilang waktu hamba sedang memperbaiki istana yang rusak karena perang'” jawab si prajurit.
”aku tidak peduli! Kenapa kau tidak mengambil lagi di gudang?” tanya sang Dwija.
“hamba sudah mencobanya tapi penjaga gudang berkata bahwa pelindung kepala untuk prajurit sudah habis dan belum ada kiriman dari para empu. Raja belum memerintahkan Patih untuk membeli besi untuk diserahkan kepada para empu supaya dibuat seragam prajurit untuk perang.” jawab si prajurit dengan halus.
“saya tidak mau tahu, saya mau dalam perang selanjutnya kau sudah harus memakai pelindung kepala, sekarang pulanglah” kata sang Dwija.
Si prajurit pun pulang dengan perasaan sedih karena dia tidak bisa berjuang untuk kerajaannya. Ketika berjalan pulang ia melihat dan mendengar ringis dan erang prajurit lain yang senasib dengannya, tapi saat di tanya Dwija mereka menjawab lupa memakai pelindung kepala. Dalam hati ia berkata seandainya saya lupa, bukan tidak punya.
Setelah sampai dirumah sederhananya si prajurit memutuskan untuk membuat sendiri pelindung kepala yang akan dipakainya di perang selanjutnya dengan bahan seadanya.
Beberapa minggu setelah itu telihat si prajurit sudah berada ditengah-tengah barisan prajurit yang tengah di inspeksi. Tiba-tiba si prajurit diseret keluar barisan lagi oleh seorang Dwija.
Sang dwija bertanya “kenapa kau tidak memakai pelindung kepala kerajaan ha?”
“hamba tidak punya, jadi hamba buat sendiri” jawab si prajurit
“seharusnya kau memakai pelindung kepala kerajaan bukan barang ini!!” bentak sang dwija sambil melempar pelindung kepala si prajurit yang telah dibuatnya dengan payah. “cambuk dia sepuluh kali” kata sang dwija kepada sang eksekusi yang tak jauh darinya.
Hari itu si prajurit malang kembali dapat cambuk. Setelah menjalani hukuman si prajurit datang ke gudang penyimpanan seragam perang untuk mengambil pelindung kepala. Tapi alangkah kecewanya si prajurit mendengar penjaga gudang yang berkata “ pelindung kepala akan di buat tahun depan karena Kerajaan akan membeli besi pada tahun depan.” dia pun pulang kerumah dengan lesu lemah.
Beberapa hari setelah itu semua prajurit dikumpulkan seperti biasa. Tapi kali ini tidak ada inspeksi karena keadaan sedang genting. Pasukan Kerajaan di garis depan sedang kocar-kacir. Si prajurit yang tidak memakai pelindung kepala kegirangan karena akhirnya dia bisa membela kerajaannya di medan perang.
Di medan perang si prajurit bertempur dengan penuh semangat pengorbanan. Sampai akhirnya si prajurit malang tertusuk tombak musuh tepat di bagian belakang kepalanya. Semua berakhir dengan kejadian heroik itu. Andai saja sang Raja sudah membeli besi... Andai saja para empu telah membuat pelindung kepala untuk si prajurit yang malang... Andai saja si prajurit malang memakai pelindung kepala pasti sekarang dia masih bertempur dengan gagahnya untuk membela kerajaannya.
Andai saja itu terjadi ....Tapi sayang semua itu hanya sebatas andai'andai, hanya sebatas mimpi. Semua telah terjadi dan tak seorangpun dapat mencurangi...
Tapi...
Andai aku seorang Raja yang digdaya dan berkuasa, aku akan menjadikan semua andai-andai itu menjadi sebuah kenyataan yang senyata nyatanya.....
Andai saja..
Hanya helaan nafas yang berani menampakkan diri.
oleh Khajat Purnomo
orang indonesia 261014

"PENGADUHAN" (Iyang Wulan)

"Pengaduhan"

Tuhan,aku tak tahu apa yang akan terjadi di kehidupan selanjutnya,
yang aku tau aku hanyalah seorang yang banyak minta.
Tuhan aku tak tahu pantaskah aku,selalu mengadu dan mengeluh padamu.
karena yang aku tahu tempat ku mengadu hanyalah kepadamu.
Tuhan aku juga tak tahu aku seorang yang suci,atau hina.
yang aku tahu bahwa kesucian dan keindahan hanyalah milikmu.
Aku hanya seorang,hina yang hanya bisa mengharap darimu dan bukan dari yang lain,
aku percaya dan akan aku percayakan segala urusan ku,kepadamu setelah susah aku berusaha,dan tak tahu lagi berbuat apa.
tuhan aku serahkan segala urusan dan dan hanya bisa sedikit berusaha.
karna aku lebih percaya kepadamu dari pada percaya kepada diriku sendiri.
karena aku tau juga bila aku mencintaimu,engkau juga akan lebih mencintai aku.
semoga cinta ini akan selalu terjaga,walaupun seperti apa setan itu mengoda dengan segala tipu dayanya.


Oleh: Iyang Wulan 021114

"Pelangi di Ujung Senja" (Nur Lailatul Khasanah)

“Pelangi di Ujung Senja”
“Aaa… Jangan Pak, bentar lagi, udah hampir selese” dengan nada melas.
“Gantian..! Bapak capek dari tadi kerja, gausah rewel..!”
Aku mendengar suara bentakan bersumber di ruang tengah dari dapur ketika aku tengah mencuci piring. Sejenak,terdengar suara larian kecil dari ruang tengah mendekat.
“Embaaak..” Aya berlari memelukku dari belakang, tak memperdulikan bajuku yang agak basah karena terciprat air dari cucian piring.
“Aya kenapa? Mas Reza nakal?” aku mematikan kran, meletakkan piring yang sudah kucuci di wastafel. Ku pandangi wajah adik manisku yang tengah terisak menahan tangis.
Aya menggeleng, menarik nafas panjang lalu melepas pelukan mungilnya di pinggangku.
“Loh? Lalu kenapa? Aya ngompol lagi? Apa susunya tumpah di karpet?” tanyaku sellidik.
Aya kembali menggeleng, kali ini dia mulai kuasa mengontrol nafasnya.
“Pengen nonton Mashaa…” ucapnya dengan suara pelan agak sedikit terisak di ujung kalimat pendeknya.
Aku mengerti, aku menggendongnya naik ke lantai dua, membaringkannya di bawah langit.
“Sudah baikan?”
Aya mengangguk, memandang langit selalu membuat perasaan menjadi lebih baik. Begitu kata Ibu. Dulu Ia pun melakukan hal yang sama ketika aku menangis. Ibu akan mengacung-acungkan jari telunjukknya kearah awan yang berjalan. Memintaku menebak bentuk awan yang bergumpalan di langit. Kuasa Tuhan menciptakan hamparan atap dunia yang tak berbatas menaungi anak-anak manusia di bawahnya, sebagai pembatas dunia dengan alam lain yang tak terjamah.
“Mbak, apa Ibu bahagia di langit sana?” tanyanya dengan tatapan lugu.
“Tentu saja Ibu bahagia. Disana, Ibu dekat dengan Tuhan, lihat Embak, Mas Reza, Bapak, lihat Aya dari atas sana” jawabku menghibur.
“Aya kangen sama Ibu Mbak..” suara hening mengikuti perkataan polosnya.
“Jadi Ibu temenan sama Allah Mbak? Berarti kalau Ibu berdoa pasti gampang dikabulkan kan?”
Aku mengangguk, mengusap air mata Aya yang belum sepenuhnya kering di ujung ujung matanya dengan tangan kananku.
“Loh? Aya ngapain?” tanyaku, menyaksikan aya menutup mata dan meletakkan kedua tangannya di dada.
Beberapa saat kemudian, Aya mengusapkan kedua telapak tangannya di wajah, mengahiri ritualnya.
“Aya?” sapaku memastikan.
“Aya baru bilang sama Ibu suruh bilang sama Allah, biar Allah bikin Bapak jadi baik sama kita, gak galakin Embak, Aya, sama Mas Reza lagi. Biar Aya di bisa nonton Mashaa lagi” jawabnya polos diikuti senyum penuh kepercayaan.
Aku memeluknya, mencium lembut dahinya, lalu kembali duduk memeluk lutut. Memandangi wajah malaikat kecil yang masih terpaku menatap elok langit menjingga.
Namanya Cahaya. Meskipun pipinya sering basah sesering kasurnya basah tiap pagi, namun seperti cahaya yang memantul dengan air menjadikannya pelangi yang megah di angkasa, seperti itulah dia, gadis mungilku yang ceria, yang tegar, yang kuat, tanpa bundadarinya.

Oleh : Nur Lailatul Khasanah 311014

"Never Give Up" (Anggara Nisa)

NEVER GIVE UP

Semilir angin sejuk di pagi hari, terduduklah dia atas bukit seorang pemuda melamun sendiri. Terkenang olehnya kelalkuan nakalnya di masa silam , saat masih duduk di bangku SMA. Dengan tersenyum-senyum sendiri samb il melihat-lihat kembali foto-foto dan video nya sewaktu SMA bersama teman-teman segenknya. Mencoret-coret dinding-dinding tembok di pinggiran jalan adalah hobinya,tawuran juga kerap menjadi tradisi unik tersendiri baginya. Memalak dan menyakiti teman-temannya adalah sebuah hal yang biasa.Tak terbayang sebelumnya, sekarang dia berada dalam lingkungan yang amat berbeda dengan masa remajanya dulu. "Hei Yusuf.... ! Sedang apa dirimu disini sendirian ? Alif, teman satu saramanya memanggil. Setengah kaget, Yusuf menengok ke arah datangnya suara itu. "Ooh... ternyata kau Alif, bikin kaget aku saja kau. Kalau jantungku ini sampai copot, gimana coba? Apakah kau mau menggantikannya ?" geram Yusuf.
"Wauuww... janganlah kau naik darah dulu,kawan... slow aja. Dari tadi aku mencari-cari dimana gerangan sobatku yang tampan ini melangkahkan kakinya. Oh, ternyata disini rupanya. Apa sebenarnya yang sedang kau pikirkan,kawan. Melamun saja kau ini." jelas Alif.
"Hahahaaa... ternyata tak tahan juga kau tak ada aku di sampingmu barang sedetik saja. " Gurau Yusuf.
" Jangan salah paham dulu.. diriku mencari-carimu karena ada suatu penyebabnya,kawan. Sssttt...diamlah dulu kau,kerana aku tau pasti kau mau tanya, kenapaaa???
Begini, pertama-tama aku datang kesini untuk mencarimu , karena waktu aku pulang kuliah tadi tak ada seorang pun yang terlihat. Yang kedua, karena aku memenuhi pesan Abah untuk mencarimu dan kau diminta untuk menghadapnya di ndalem.”Lantas, mengapa Abah mencariku?” Yusuf mengernyit penasaran. “Mungkin untuk lebih jelasnya, kau datang saja sekarang, tak usah banyak tanya padaku. Aku juga tak faham mengapa beliau mencarimu”. Jawab Alif
Dengan hati yang penuh tanya,Yusuf pun melangkahkan kakinya menuju ndalem .Dengan pelan-pelan Yusuf mengucapkan salam dengan lembut . Tak lama kemudian Abah membukakan pintu untuknya dan menyuruhnya masuk. “Benarkah kau santriku yang bernama Yusuf?”. Tanya Abah
“Iya,benar Abah. Nama sayaYusuf “ Jawab Yusuf penuh takdim.
“Aku memanggilmu kesini karena ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Begini, di setiap akhir bulan Oktober biasa diadakan lomba Santri Teladan antar pondok pesantren. Untuk itu aku menunjukmu sebagai wakil dari pondok Lirboyo ini. Karena menurutku kaulah yang pantas untuk mewakili perlombaan ini. Waktu perlombaan dilaksanakan hari Jum’at besok , dimulai ba’da sholat Jum’at di Gedung Satya Lencana. Bagaimana, bersediakah kamu untuk mewakilinya Yusuf?” tanya Abah dengan lembut dan berwibawa. Yusuf terdiam merenung, bingung harus menjawab ya atau tidak. Karena dia merasa tidak pantas untuk menjadi wakil di Perlombaan Santri Teladan tersebut. Dia mengingat masa lalunya yang begitu liar dan jauh dari pengawasan orang tuanya yang selalu sibuk dengan harta kekayaannya. Namun tidak mungkin sekali jika harus menolak tawaran ini. Seharusnya dia bersyukur telah ditunjuk sebagai wakil dari pondoknya.
Setelah beberapa kali dipikirkannya, Yusuf akhirnya menerima tawaran dari Abah. Mungkin ini adalah sebuah awal untuknya agar bisa menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Beberapa hari kemudian, pada hari Jum’at ba’da sholat Jum’at di depan masjid teman-teman santrinya memberikan semangat dan dorongan pada Yusuf yang akan berjihad menuju perlombaan. Beberapa temannya mengantarkannya sampai ke tempat perlombaan dan menyaksikan jalaannya perlombaan sampai selesai. Sekitar 100 santri dari berbagai kota ikut beradu di dalam perlombaan. Yusuf sebenarnya agak kurang percaya diri , namun teman-temannya selalu dan selalu memompakan semangat untuknya sehingga acara pun akhirnya dimulai juga. Pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan, barang siapa yang tidak bis menjawab bisa dilemparkan pada peserta lomba yang lain. Waktu terus bergulir sampai mendekati babak final. Tanpa disadari Yusuf mengikuti babak akhir tersebut. Lalu 5 menit kemudian saatnya diumumkan siapakah pemenang perlomaan tersebut. Yusuf sangat cemas, jika ia akan kalah mungkin ini sudah menjadi takdirnya dan jika menang ini semata-mata dipersembahkan untuk Abah yang telah menunjuknya sebagai wakil dan juga sebagai rasa terima kasih nya telah membimbing dan mengajari berbagai ilmu padanya selama ini. 1,2,3.Setelah kami nilai dan kami teliti jawaban-jawaban dari para peserta lomba, akhirnya kami sebagai juri menentukan satu diantara kalian yang pantas menjadi jawara. Kami panggilkan.... Ananda, berhenti sejenak. Hening menyelimuti ruangan.
”Yusuf Mahendra Kelana... Selamat, Anda terpilih menjadi juara di perlombaan Santri Teladan Tingkat Nasional kali ini. Silahkan maju!” . Yusuf pun berdiri dan maju dan langsung bersujud syukur dan mengucap khamdalah berkali-kali.Rasa bahagianya tak bisa ia gambarkan, hingga setetes air mata terjatuh di pipinya. Teman –teman santrinya langsung menghambur menyambut Yusuf dan mengucapkan selamat padanya telah dinobatkan sebagai juara dan dapat membawa nama baik pesantrennya. Yusuf tak menduga sebelumnya jika memenangkan perlombaan ini dia akan menjadi wakil di tingkat internasional selanjutnya di Turki dan jika dapat menjadi 5 besar dia akan mendapatkan beasiswa di Cairo,Mesir dan sekaligus mendapat hadiah umroh untuk dirinya dan keluarganya. Betapa senangnya dia mendengar kabar tersebut. Semangatnya pun kini kembali menggebu agar dapat menjadi 5 besar di perlombaan nanti sehingga dia dapat mewujudkan cita-cita membawa keluarga besarnya ke tanah suci. Ia ingin Ayahnya dapat normal seperti orang lainnya setelah depresi karena bisnis besarnya mengalami kebangkrutan dan gulung tikar. Ia berharap Ayahnya dapat sembuh kembali.
Semua do’a-do’a dan harapannya kini terkabul, Ayahnya sembuh seperti sedia kala dan ia meraih juara pertama dalam perlombaan di tingkat internasional itu. Sekarang Yusuf sadar, ia harus tetap semangat dalam menjalani kehidupannya dan jangan pesimis karena masa lalunya. Kesuksesan bukan hanya berawal dari sebuah kegagalan, tetapi juga berawal dari masa lalu yang kelam dan gelap. Jadi, dalam hati Yusuf sekarang tak ada lagi kata ‘pesimis’ ataupun minder menjalani hidupnya kini yang sangat berlawanan jauh dari masa lalunya. Never give up adalah motto hidupnya.

Oleh: Anggara Nisa 301014

"Kenapa Jooranes?" (Erga Putra RA)

Kenapa Jooranes?
Hari itu mungkin menjadi hari yang besar bagi bangsa Indonesia. Kenapa? Karena hari itu sang nakhoda ke-7 telah mengambil alih kemudi kapal bernama RI. Tapi bukan itu yang gue mau harapkan disini ! Gue berharap hari itu juga hari dimana ditegakkannya suatu kondisi dimana makhluk-makhluk kasar yang bermanifestasi menjadi jomblo tak lagi dipandang sebelah hidung, (eh hahaha dipandang sebelah mata kamsudnya). Menurut gue, setatus jomblo atau tidak itu sama saja. Bedanya cuma kalau jomblo itu berarti tidak punya pasangan, dan sebaliknya. Itu saja kan. Tapi pemikiran mainstream orang-orang mengatakan seakan jomblo itu sebagai bahan isi museum, kayak makhluk aneh, mirip alien versus koruptor (oops), atau keturunan manusia purba meganthropus setengahtikus. Gituu!!
Sore itu, gue enggak tau jam berapa, yang jelas cuacanya sedang hujan deras. Duduk SENDIRI bersandar tiang beton di luar kamar kost, kaki “selonjor”. Teman gue sih pada di dalam kamar. Gue pegang gitar dan mulai memainkan,
“kuncine lagu selimut tetangga pertamane apa bos?” Teriak tanya.
“mulai Aminor bro..” Jawab.
“Oh.. hoOh.”
Ini lagu gue banget.. soalnya gue sering minjem selimut tetangga buat tidur, maklum gue biasa selimutan dobel, biar anget. Kan kalau anget jadi tidurnya pulas, terus yang diharapkan itu bisa mimpi indah, naah. Mulai memainkan lagu dengan nada intro.
(ayo nyanyi beroo)…bersabarlah sayang, aku akan pulang, jangan dengarkan gosip murahan, tentang aku…bla bla bla
(masuk reff) …lingsir wengi, sliramu tumeeking.. stop!! Jancuk boss. Ganti lagu dewe. Gaswatt.. gue malah nyanyi buat manggil mantan!. Hahaha
Dan sore itu pun gue habiskan untuk bemesraan dengan si gitar fals ini, tidak ada aktifitas lain, selain nyanyi bersama kawan-kawan, memainkan lagu-lagu yang dipas-paskan dengan kisah hidup gue, seperti lagu selimut tetangga tadi, (selimut saudara juga), terus mix sama lagu si bolang.. nah itu gue banget. Enggak perlu suara merdu, asal enggak kelihatan fals, serta pitch control nya jelas, ya sudah. Enggak perlu jaim sok romantis, teriak-teriak sampai suara habis, tidak masalah.
Hati bicara “ini enaknya kalau kita itu jomblo sobat, kita tidak perlu membaikkan diri, tak perlu jadi sempurna, gini malah enak.. jadi diri sendiri, tidak gengsian, ngupil juga tidak ada yang larang(asal jangan dikasih ke teman), mau teriak teriak, jingkrak jingkrak, rusak sana rusak sini, tidak ada yang marahi, paling tetangga sebelah, yang biasa selimutnya gue curi.. hahaha”
Tapi hati kecil menimpali, “sobat, tapi lebih enak lagi kalau nyanyi nya sama pasangan, berdua di bawah rintik hujan, bermesraan di bawah terik mentari, selalu bersama seperti AP Boot bisa di segala situasi dan kondisi. Eiits.. tapi tetep jadi diri kamu sendiri, kadang ngupil ya enggak apa-apa, hidung kan juga sering minta diperhatiin?”
Gubraakk !! terbangun dari lamunan di malam jum'at.

Oleh: Erga Putra RA 231014

"Bunuh Diri" (Siti Fatimah)

Bunuh diri
"Lo jangan mati dong Nan!!" teriak Lia dengan keras, mencoba menyadarkan sahabatnya yang sudah gak bernyawa karena bunuh diri.
What!! bunuh diri, iya Nani bunuh diri, bukan karena gak lulus skripsi apalagi karena broken heart, tapi karena idolanya kawin. hehe, ekstrem banget kan? idola kaya gimana yang bisa bikin fansnya bunuh diri ya.
Ceritanya Nani tuh nge-fans banget sama bintang halyu si Min, sampai-sampai dia ngumpulin apa aja yang berhubungan dengan si Min, entah itu album, kaos, mp3, video, bahkan produk yang di bintang iklani oleh si Min ini.
Suatu hari ada pengumuman di twitter si Min kalau dia bakal kawin sama artis cewek yang cantik. Otomatis Nani shock berat, mengamuk, membanting semua barang-barang koleksinya tentang si Min, memanjat tiang listrik sambil menangis sejadi-jadinya kaya orang gila.
Keluarganya hanya heran, kenapa anaknya ngamuk ya? Ternyata eh ternyata idolanya sudah menemukan pelabuhan hati.

Oleh: Siti Fatimah 271014

""Cinta-Nya"" (Zulfa Nur Kholifah)

Cinta-Nya

Ketika semua pintu telah terkunci....
Pintu Nya tetap terbuka...
Ketika setiap jalan terlihat buntu....
Jalan Nya terbentang luas...
Ketika semua tangan telah terkekang....
Tangan Nya senantiasa terulur
Ketika semua cinta telah sirna
Cinta Nya tetap tercurah
Ketika tak seorang pun mampu menolong...
Hanya pertolongan Nya yang kita harapkan.

Oleh: Zulfa Nur Kholifah 171014

"Suara Suci" (Nur Fatmah)

* suara suci *

hening malam mencerkkam.
ku terjaga dalam tidurku
angin malam menghembus kalbu
menyusut ke tulang sum-sumku
suara yg terdengar
nyaring takdapat ku berkata
menatih suara yg bermakna
penuh dg kesan dan pengetahuan.
melangkah penuh dg keyakinan
memimpin hati yg hitam
yg telah ter tutup ilmu pengetahuan
tapi suara itu membangkitkan ku
dari keterpurukan
suara itu memimpin aku dri kegagalan
membuat ku ingat pada sang pencipta
menanamkan iman pd hati terdalam
karna suara itu adalah
lampiran ayat suci al-quran.


Oleh: Nur Fatmah 251014

"Tujuh Purnama Menantimu" (Nurul Khikmah)

*tujuh purnama menantimu*

matahari mulai menuruni singgasananya menawarkan mega merah diufuk barat... dua insan sedang duduk santai di lapangan nan luas di ujung bukit.
Rifa : "sudahlah Nes, cari saja yang lain."
neska :"tak semudah itu Rif." (sambil tertunduk lesu memainkan ujung kemeja merahnya).
keduanya terdiam "sepi" seolah merasakan tamparan angin yg datang sambil memandang hamparan padang ilalang yang ikut tertampar angin
Rifa :"kenapa sih kamu masih bertahan dengan dia yang sudah jelas-jelas buat kamu nangis. apa istimewanya dia." (gerutu Rifa dengan tatapan nanar)
Neska masih saja terdiam tanpa memperdulikan Rifa.
Rifa : "Nes..!!! (dengan nada membentak seraya memegangi lengan neska). dengerin aku..!!"
tiba-tiba Neska menatapnya dan memeluknya dengan isak tangis yang tak terbendung lagi. air matanya jatuh di dada bidang Rifa.
Rifa: "maafin aku (sambil membelai rambut Neska) aku ngelakui ini karena aku sayang kamu"
Neska:"tapi aku belum bisa menerima mu Rif. hatiku masih untuknya." (ucapnya sambil terisak). dia berjanji pada purnama ketujuh, dia akan datang Rif. (senyum kecilnya terlihat diujung bibirnya)
Rifa: "sadarlah Nes..!! dia itu sudah meninggal Nes. dia tidak akan mungkin kembali.. ucapnya lirih.
_karya Hikmah, pemalang 23 Mei 1991. Unsiq.
mohon saran dan masukan teman-teman semua.

"Kado Terakhir" (Wulan Aprilia)

"Kado Terakhir"
Namaku Keisya dan sekarang aku duduk dikelas XI SMA.Hari-hariku semakin indah dengan hadirnya Dafa dihidupku.Dia salah satu orang yang bisa membuatku tersenyum setelah kepergian kedua orang tuaku satu tahun silam,dan itu artinya hampir dua tahun ini aku menjalin hubungan dengannya.Kami selalu mengabadikan saat-saat bersama dalam album foto pemberian mama.Dan aku suka sekali melihatnya saat jingga mulai menyelimuti langit,karena saat itu adalah saat Dafa menyatakan perasaannya kepadaku.
"Aku merindukan Dafa yang dulu" kata-kata itu mewakili perasaanku saat ini.Hanya pandangan kosong yang mampu kuekspresikan saat melihat foto kenanganku bersama Dafa.Dan sebuah pertanyaan menyelinap dalam benakku "Apakah aku akan kehilangan Dafa sebentar lagi?".Entahlah.Tapi aku berharap itu tidak akan terjadi.Karena aku benar-benar mencintainya,meskipun sekarang yang tersisa hanyalah cinta semu.Cinta semu yang mungkin akan kandas saat Dafa menyatakan perasaannya pada Sarah,teman sekelasku.
Dua hari lagi adalah hari ulangtahunku dan Dafa.Ya,,,ulangtahunku sama dengan Dafa.Seperti tahun yang lalu aku sudah merencanakan sesuatu untuknya,memang bukan sesuatu yang spesial tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk memperbaiki hubungan ini.
"Bantu aku buat surprise ya..." pintaku pada Hiima.
"Buat Dafa" Hilma mengerutkan kening.
Aku hanya mengangguk mengiakan.
"Kamu masih mencintai Dafa?
Mendengar pertanyaan Hilma aku tertunduk lesu.Aku tahu Hilma ingin aku putus,karena dia tidak mau melihatku yang terus menerus dikecewakan Dafa.Tapi entah mengapa aku justru ingin terus bersama Dafa,meskipun akhir-akhir ini dia tidak pernah memperdulikanku.
"Kamu punya rencana apa?" Hilma kembali bertanya kepadaku.
"Kamu mau membantuku?" aku balik bertanya.
Hilma tersenyum "Tentu"
"Aku akan membuat untuk Dafa dan besok pagi aku akan menunggunya didepan gerbang sekolah.Raka sudah berjanji membantuku" aku berbisik ditelinga Hilma.
Hari yang kutunggu akhirnya tiba.Aku berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya.Dan ternyata Raka telah menunggu disana.
"Hey...sudah lama?" aku menyapanya.
"Tidak...baru sepeleh menit".
"Tumben-tubenan berangkat pagi?" tiba-tiba suara Hilma terdengar dari arah belakang.
"Tentu,untuk dua sahabatku.Aku mendukungmu dengan Dafa" Raka menepuk pundakku.
"Terimakasih,semoga dia suka dengan kejutan ini" aku berharap.
Sepuluh menit lagi jam pelajaran kan segera dimulai,tapi Dafa belum juga datang.Aku mulai lesu "jangan-jangan dia tidak masuk hari ini" gerutuku dalam hati.
"Dafa pasti masuk kok,kita tunggu lima menit lagi" Hilma menenangkanku.
"Ia kita tunggu sebentar lagi" Raka menyetujui.
Tiba-tiba ponselku bergetar. "Tante Gita" aku memberitahu.
"Apa Dafa benar tidak masuk,buktinya mamanya telepon kamu" Raka menerka-nerka.
Tanpa menunggu lagi aku segera mengangkat telepon dari tante Gita.
Suara tante Gita tersendat-sendat "Keisya,Dafa kecelakaan.Dia meninggal"
Mendengar itu semua,kado di tanganku terjatuh diikuti cairan bening yang meluncur ke pipiku.
Beberapa hari setelah kepergian Dafa aku tak banyak berbicara.Aku memilih untuk sendiri di rumah setelah pulang sekolah.Sampai saat ini aku sama sekali tidak pernah menyangka Dafa pergi secepat ini.Sore ini aku hanya duduk termenung sendiri didepan rumah.Sementara pikiranku melayang jauh entah kemana.
"Keisya" seseorang telah memanggilku.
Aku segera berdiri setelah melihat tante Gita disampingku "Tante" aku menjabat tangan tante Gita.
"Silahkan masuk tante"
"Tante duduk disini saja.Tante kesini hanya ingin memberikan hadiah dari Dafa yang belum sempat diberika.Ini hadiahnya" tante Gita mengulurkan sebuah kotak kecil berwarna merah.
"Hadiah" aku bertanya-tanya daam hati sambik menerima kotak itu.
"Hadiah ini sudah dipersiapkan jauh hari sebelum ulangtahunmu Keisya" tante Gita memberitahu.
Setalah itu tante Gita menceritakan rahasia yang tidak aku ketahui sebelumnya.Kebenaran yang kembali membuat air mataku mengalir.Sekarang aku tahu,ternyata Dafa dan Sarah berpura-pura saling mencintai hanya untuk ulangtahunku.
"Happy brithday" tinta merah jambu mengukir ucapan terakhir Dafa untukku,bersama cincin dan foto kami berdua.

Oleh: Wulan Aprilia 221014

"Si Gembul" (Moriz Avisena)

Si Gembul
Gembul menatap langit dari celah pintu kamar kosnya, warna gelap yang terus menjatuhkan ribuan tetes hujan. Terkadang cahaya petir juga ikut muncul berpartisipasi. Dilihat dari keadaannya, sepertinya hujan masih akan terus membasahi bumi hingga beberapa jam ke depan. Tiap derai tetesnya berirama syahdu, seperti lagu instrumen yang kerap ia putar di komputer. Senada dengan tetesan air hujan yang konstan, mulutnya pun menguap. Kedua bola matanya tak bisa lagi diajak kompromi. Tapi sebesar apapun pengaruh bius yang ditebarkan sang hujan, namun Gembul memaksa diri tak boleh tertidur. Ia kini sedang duduk menghadapi setumpuk pakaian leceknya yang siap disetrika. Bahaya sekali meninggalkan setrika dalam keadaan mode on begitu, menyadari dirinya orang yang super ceroboh.
Ia gosok-gosokkan setrika maju mundur ke pakaian seragam sekolahnya sebagaimana tiap kali ia juga mengucek-ucek matanya yang mengantuk. Padahal ia sudah memakai penjepit jemuran segala untuk menangkal kantuknya. Tapi rupanya rasa kantuk jauh lebih menusuk daripada penjepit jemuran yang bersarang di kedua pipinya. Jika bukan karena ibu wali kelas yang menyuruh Gembul harus selalu tampil klimis, tentulah ia sudah memilih tidur sambil memeluk bantal guling. Biarlah seragam putih abu-abunya tetap tergeletak di pojok almari.
Tak habis-habisnya ia menggerutu. Menurutnya, wali kelas yang merangkap guru fisika itu memang galak, cerewet dan keterlaluan. Sedikit-sedikit menyinggung kerapian, lalu penampilan. Itu terus omelnya tiap ketemu. Apa beliau tak paham life style seseorang nggak boleh diatur? Biarkanlah mengalir alami. Ini namanya mengusik HAM, begitu pikiran di otak Gembul. Tapi realitanya, Gembul cukup patuh, buktinya ia sekarang belajar menyetrika pakaiannya sendiri. Ia ingin membuat guru bermulut duanya itu terkesan dengan penampilannya besok. Maklumlah, orang-orang visual macam gurunya itu memang harus disuguhi dengan penampilan yang super rapi. Kalau tidak, cerewetnya bisa luar biasa.
Ia benar-benar ngantuk berat. Tenaga Gembul perlahan mulai hilang. Genggaman tangannya di gagang setrika mulai melemas. Tluk! Tluk! Suara anggukan Gembul yang ketiduran. Entah sadar atau setengah sadar, Gembul lalu meletakkan setrikanya dalam posisi berdiri di atas meja lipatnya tanpa mencabut kabel. Ia masih berniat menyetrika lagi nanti. Nanti? Ya, sekarang Gembul ingin tidur barang sekejap. Mungkin setelah sepuluh menit ke depan, ia akan bangun lagi untuk menyetrika. Itung-itung mengumpulkan tenaga lagi, begitulah yang dipikirkannya. Gembul tahu, kalau bolak-balik mencabut setrika dan menghidupkannya lagi, dayanya tinggi sekali. Dan semakin tinggi daya yang digunakan, pembayaran listrik juga semakin naik. Tentu saja hal ini akan mengundang perhatian Ibu kos. Ibu kos Gembul juga kalau dalam hal marah-marah tak kalah gawatnya dengan gurunya.
Gembul akhirnya tertidur pulas. Sepuluh menit berlalu Gembul masih tertidur. Setengah jam berlalu Gembul masih saja belum bangun. Sampai akhirnya lewat satu jam pun, Gembul masih dibelai mimpi. Tidurnya keblabasan hingga akhirnya panggilan-panggilan panik menganggu pendengaran telinga Gembul.
“Mbul! Gembul! Bangun Mbul! Ada kebakaraaan!!!” seru orang-orang dari luar.
Gembul yang masih belum sadar sepenuhnya hanya bergumam, “Kebakaran apa? Kebakaran jenggot?”
Kedua matanya dikucek-kucek tapi malas untuk terbuka. Ia ingin kembali tidur, tapi terdengar teriakan-teriakan lain yang menyusul.
“Mbul! Keluar! Ada kebakaran!!!”
DRUK!!Sebuah bongkahan kayu panas jatuh mengenai punggungnya yang hanya memakai kaos saja, otomatis Gembul menjerit.“Waadaaaaw! Puanaaaas!”
Gembul mengusap-usap punggungnya sambil masih merintih. “Duh! Ini jatuh dari mana sih!? Kok ada balok kayu panas begini? Kebakaran apa……..nya……,” Gembul baru sadar dan melihat sekeliling kamarnya telah dilalap si jago merah. Berkobar memenuhi kamarnya. Tiba-tiba rasa panas menyengat dirinya.
Matanya langsung melotot. Mulutnya menganga tak percaya. Menunjuk-nunjuk tak karuan. “Gyaaaaaaaa…!!!”
Gembul panik. Digigitinya kuku-kuku tangannya. Sambil matanya bergerak ke kanan-kiri. Pemandangan yang mengerikan ini membuat aliran darahnya terus naik-turun. Suhu udara menjadi terasa begitu panas. Ia juga tak tahu apakah harus menerobos keluar ataukah hanya duduk menunggu pertolongan. Tapi, bila menunggu bantuan datang, mungkin sudah jadi ubi bakar dia setelah diselamatkan. Apalagi ini lantai dua.
“Huuufh!” tanpa pikir panjang lagi, ia lalu nekat menerobos ke luar. Blush! Gembul langsung berlari menuju tangga dan turun. Persentase keselamatan Gembul saat itu sangat rendah. Lantai-lantai yang sudah mengeropos dan tinggal robohnya itu benar-benar hancur setiap kali Gembul melangkah. Brur! Brur! Benar-benar seperti di film action saja. Gembul tetap cuek dan terus berlari menyelamatkan diri.
“Hah! Hah! Hah! Hah!” terdengar desahan nafas Gembul sesampainya di bawah.
Ia pun melihat beberapa anak kos yang lain sudah berada di bawah dan bersorak mengetahui dirinya selamat.
“Selamat juga kamu, Mbul! Nyaris hilang nyawamu tadi!” seru temannya.
Mereka pun mengucap syukur karena tak ada yang menjadi korban. Tapi tidak untuk rumah kos mereka yang ditelan ganasnya api. Tak lama kemudian, petugas pemadam kebakaran pun datang dan segera melakukan aksinya. Ditengah kebisingan masyarakat yang akhirnya berkumpul tanpa diundang, Gembul sempat melihat Ibu kos yang menangis lantaran rumahnya yang menjadi satu bangunan dengan kamar-kamar kos, hangus tak bersisa. Semua hartanya musnah kecuali kotak perhisasan yang sepertinya sempat Ibu kos selamatkan. Bapak kos terus menenangkan istrinya agar ikhlaskan saja semuanya, ini memang sudah suratan takdir untuk keluarga mereka. Mungkin saat tidur tadi secara tak sengaja telah menendang meja lipat dan menjatuhkan setrika tepat diatas gundukan pakaian-pakaiannya. Itu sepertinya masuk akal untuk dijadikan sebab bisa terjadi kebakaran yang tak terduga seperti ini. Gembul merasa menjadi sangat pusing. Perasaannya kini seperti mabuk darat. Ia pegangi kepalanya yang berkunang-kunang. Dan, Blugh! Akhirnya Gembul roboh tak sadarkan diri. Keadaan Gembul sekarang ini semakin membuat panik teman-temannya.
“Mbul! Gembul!” Teman-temannya menyokong berat Gembul. Gembul digoyang-goyang oleh temannya agar bangun dari pingsan. “Gembul! Bangun, Bul!”
“Gembul! Bangun, Mbul! Heh, Gembul!” seru salah satu temannya membangunkannya.
“Akhirnya sadar juga nih si gemblung!” sinis salah satu temannya setelah Gembul mulai membuka mata.
Cairan di otaknya belum sepenuhnya mengumpul menjadi satu. Gembul melihat sekeliling. Tumpukan pakaiannya yang belum sepenuhnya rapi, buku-buku yang berantakan, di sudut di bawah meja juga nampak bungkus nasi goreng yang belum dibuang, kamar yang berantakan ini tentu saja kamar ciri khas Gembul. Rupanya ia berada di kamarnya sendiri, kamar kos.
“Eh, dasar super ceroboh! Setrika masih nyala ditinggal tidur lagi! Kalau kebakaran gimana? Baru tahu rasa!”
“Iya, nih! Gimana sih! Untung kita bangunin.”
Teman-temannya satu persatu memarahi Gembul atas tidak hati-hatiannya. Syukurlah cuma mimpi, pikirnya. Gembul melihat kabel setrikanya sudah dicabut. Dengan senyuman tanpa rasa bersalah, ia lalu ngeles, “Ya maap, tadi tuh rencananya cuma pingin tidur barang semenit aja, terus bangun lagi buat nyetrika. Kan sayang watt-nya.”
Saat teman-teman Gembul ingin membalas ucapan darinya, ada sebuah panggilan nyaring dari bawah. “Anak-anak! Ayo, katanya mau bantuin…..! Ibu sama Bapak kerepotan nih…!”
Teman-teman Gembul langsung kasak-kusuk. Mereka baru ingat tujuan mereka ke kamar Gembul ini untuk membangunkan si anak sapi itu.
“Ada apaan sih emangnya?” tanya Gembul.
“Pokoknya turun aja dulu, nanti kamu tahu,” jawab temannya apa adanya.
Gembul dan lainnya bergegas turun dari lantai dua. Gembul berjalan paling terakhir. Setelah sampai di bawah, barulah ia tahu apa yang terjadi. Rupanya hujan tadi membuat banjir kecil di lingkungan rumahnya. Banjir yang mampir ke rumah mereka ini tingginya hanya semata kaki. Tapi, tetap saja merepotkan. Teman-teman Gembul lalu mendapat instruksi dari Bapak kos untuk memindahkan barang-barang furnitur. Dan yang lainnya bertugas menyapu air tanpa diundang ini ke luar. Semua bersibuk-sibuk ria tak terkecuali Gembul.

Oleh: Moriz Avisena 191014

"Maafkan Aku Mama" (Iyang Wulan)

MAAFKAN AKU MAMA
Siang itu si Udin,sedang kebingungan mencari kocar kacir karena tak punya uang,maklum lah bingung dia gak kerja dan masih mengandalkan orang tua.
dia berjalan kesana kemari kebingugan,dan ternyata terlintas di benaknya untuk mencuri motor yang berjejer jejer di depan kosan milik ibunya.
tak berapa lama kemudian 1 motor sudah berhasil di gondolnya,entah di bawa kemana.
Siang itu berlalu,si Udin pun masih dalam persembunyianya dan berniat menjual motor itu esok harinya,tiba tiba saja ponselnya berdering,"halo buk ada apa,?"kata Udin sambil makan pisang goreng.
"Diiinn Udiinn cepat pulang nak,!"jawab ibunya panik sekali
"a a ada apa to buk?kok panik gitu,siapa yang meninggal,?"
"gak ada Din tapi motor baru ibuk hilang Din,!"
Udin pun langsung kaget satu biji pisang goreng tertelan,"wah aku mencuri motor kok motor ibuk ilag juga,ini pasti hukum karma,"begitu fikir Udin
"uhuk uhuk uhuk"
"kamu kenapa Udin,?"tanya ibunya panik
"keselek pisang goreng buk,ya udah ibuk langsung telfon polisi aja barang kali bisa ketemu buk,!"
keesokan harinya saat Udin berniat menjual motor curian kesalah satu temanya dia di hadang oleh dua orang polisi.
"selamat pagi dek,"
"pagi pak,"jawab Udin dengan gugup
"bisa tunjukan suratnya,!"
"ngak ada ada pak,"jawab Udin hampir nagis
"kalau begitu adek kami bawa ke kantor polisi,"
"jangan pak,khixz khixz khixz," di perjalana pun Udin masih menagis.
tak berapa lama menunggu di kantor polosi,dia mendegar suara ibuk ibuk,"terimakasih ya pak motor saya ketemu,dan mana malingnya,?"
"mari saya antar buk,!" jawab seorang polisi.
setelah dia sampai di hadapan Udin betapa tercegagnya ia ternyata pencurinya adalah anaknya sendiri.
"Uuudin"
"ibuk,"Udin pun kaget bukan kepayang
"jadi kamu malingnya,dasar anak gak tau diriiii,"
"huuuaaaaa,maafkan aku ibuukkkk,"Udin pun menagis bersimpuh di depan ibunnya.

penulis,wulan lahir 9 febuari 1993,di Wonosobo,orang yang hobi jalan jalan ke pegunugan walau tingalnya di gunug.
kisah ini aku ambil dari kisah nyata,sumber dari teman aku sendiri.tapi nama bukan nama asli,he he,alamat email wuwunesidoro@gmail.com.
salam karya sastra jaya.
semoga dapat semakin berkembang ya.

"IBU" (Moriz Avisena)

IBU
Langit cerah mengetuk pintu
Burung-burung pagi menyerupai violin
Sinar hangat menyebar menyapa bumi
Lukisan kapas-kapas langit menjadi latar pagi
Ibuku selesai dengan masakannya
Kemudian menyuapiku sembari kukenakan seragamku
Selimut hitam terbentang luas
Dihiasi dengan pernak-pernik bintang
Belaian bulan setiap malam
Nada-nada cinta mengiringi lelapku
Tenang mendamaikan meresap ke jiwa
Ibu mengecup keningku
Menuangkan sayangnya sepenuh hati
Nasihat-nasihatmu yang menjadi peganganku
Kau ajarkan putihnya hidup ini
Kau menjaga tubuhku yang kecil tanpa lelah
Kau sembuhkan luka dan laraku
Ibu menyayangiku lebih dari yang kutahu
Dan tak ada hari tanpa senyum dan tawa
Hanya satu yang bisa kulakukan,
tak kan kubiarkan senyuman yang teduh itu hilang dari wajah Ibu
karena aku sayang sekali Ibuku.

Oleh: Moriz Avisena131014

"Pengembala Masa" (Iyang Wulan)

PENGEMBALA MASA

Ia si pengembala masa
selalu mengais ngais kebenaran dunia
tapi yang ia dapat hanyalah kebohongan belaka
semua yang terjadi hanyalah siasat dan tipu daya.
ia dengar deburan ombak yang membawa angin kegersangan
membawa janji janji memilukan
dari pemimpin pemimpin keegoisan
mereka yang buat satu bangsa menangis dalam keterpurukan
mereka itu srigala srigala pemangsa negara.
Dan ia si pengembala masa
berlari lari mencari air kehidupan
keselatan dan utara yang ada hanyalah pembodohan
ia pun berlari kesuatu negeri tetangga
tapi yang ia dapat hanyalah siksa.
Menangis ia,di hatinya yang penuh duka nestapa
di negrinya saja sudah tak dapat menyambung hidupnya
ingin mati pun ia takut kepada tuhan dan siksanya
ia hanya si miskin pengembala masa,bukan sapi ataupun domba
yang ia punya hanyalah kepercayaan terhadap tuhanya
bahwa cinta tuhan akan selalu ada di perjalanan hidupnya.

Oleh: Iyang Wulan 141014

"KEPARAT" (Iyang Wulan)

KEPARAT

Itulah kicaun yang telah di ganti kekecewaan.
Dunia ini seakan membodohiku,mereka hadirkan penuntun yang tak tau malu.
mereka yang selalu melontar lontar,megencangkan urat suaranya,
mengema sampai mengguncangkan dunia,
tapi apa, itu hanya tipu daya belaka.
ini demi kalian yang aku sayangi dan demi pejuang lalu yang saya hormati.
itu katanya,mulut manis yang mengeluarkan busa busa kecewa.
lalu tiyangnya itu siapa,
kalau pemimpinya saja tak dapat di percaya,
mereka hanya bisa memperdaya,
mereka hanya pemangsa massa,
terombang ambing kita di buatnya,
masa demi masa yang terjadi sama saja,
mereka menjajikan sejahtera,
tapi apa semua sama saja,
mereka hanya membuat gelagat dan tipu daya,
mereka itu pengemis yang berkedok kewibawaan.
mereka itu perampok yang bertopeng kedermawaan.
ini apa,? benarkah ini suatu bangsa,
bangsa yang pemimpinya asik berebut kursi kedudukan,
ia si pengemis dan pemulung,gelandagan dan binatang jalang,mereka di lupakan sudah tak lagi di hiraukan,
kapan pemimpin itu akan sadar bahwa yang di lakukan adalah titik awal kehancuran.


Oleh: Iyang Wulan 101014

"TERAMPAS" (Zulfa Nur Kholifah)

TERAMPAS

bukan masalah nasib baik yang berpihak pada siapa
tapi keadilan yang dirasa tidak ada 
mengeluh,,, 
takut,,,,
khawatir,,,,
curiga,,,
juga terampasnya ketenangan
ujian memang begitu terasa
apalagi saat kita selalu di pojokkan
rasa hampir putus asa,
saat diri sudah malas untuk berusaha
serasa sangat berat tantangan dan kehidupan yang harus dijalani,,
semenit saja kita tidak ingat kepada yang maha segalanya,
ketika setan sudah mampu menguasai
sangat terasa beban dalam keterpojokan itu
menjerit,menangis bahkan memberontak pun serasa tak mampu dan tak berguna.


Oleh: Zulfa Nur Kholifah, 131014.

Selasa, 02 Desember 2014

"BUTA" (Yuli Astuti)

B-U-T-A

Miris!
Namun realistis,
Ayolah...
Dia masih manusia tulen!
Argh, dasar binatang jalang!

Hahaha(!)
Siapa bisa menebak soal hati?
Sudahlah,
Ini terlalu keras!
Hati tak lagi sanggup terima nyata,
Atau...
Aku yang terlalu lama hidup dalam manisnya hukum yang lemag?
Ingin menutup mata dari apa yang terjadi,
Tetap saja telinga ini mampu menangkap apa yang tersembunyi dari mataku!

Oleh: Yuli Astuti, 05 oktober 2014

"Woey..?" (Erga Putra RA)

Woey..?

Afrodit gentayangan memanggil
Sudahkah kau mendengarku..
Tentang nyanyian kerinduan
Tentang kenangan, impian, serta gurauan

Woey..?
Athena satu sayap menimpali
Buseet dah, kapilernya romantisa !
Entahlah mungkin kau telah lupa
Atau lupa lah yang telah melupakanmu
Hahaha.. sudahlah !
Bukan musimnya para dewi bersaut-sautan
Bukan jamannya mitologi terkuak lagi
Hari ini, piring sudah bisa kita pecahkan
Pintu bisa kita banting dengan kencang..
Ya sudah, kenapa ikut repot?
Atau kau mau repot itu ikut merepotkanmu?
Bisakah kau gigit saja dengan gerahammu?
Atau kau ikatkan dengan tambang ke tubuhmu?
Kamu masih manusia kan?


Oleh: Erga Putra RA #‎kostanrosemary91014‬

"SENDIRI" (Iyang Wulan)

SENDIRI

Menutup mata itu gelap,membuka mata aku sendiri.
mungkin ini takdir,atau kebahagian yang tertunda,
semua mata meningalkan aku.
tangan tangan itu pun selalu kalap,
mnampar aku dengan kenagan dulu,
mungkin ini salah ku,atau memang takdir ku,
aku tak tau siapa yang di tingalkan dan yang meningalkan,
temanku hanyalah kesedihan,dan kesepian selalu menari nari di setiap ujung pandang mataku.
ini seperti tak adil,tapi ini suratan takdir,
marah memang,kenapa yang lain mudah tertawa sedang aku snyum pun tak bisa,
apakh tuhan menyayangiku,,??
jika ia kenapa tuhan biarkan hidupku selalu dalam kepayahan,
atau mungkin ini kah kasih sayang tuhan,yang di tunjukan dengan cobaan.
sering aku meraung,ambilah aku tuhan jika hidupku ini sudah tiada arti.
tubuhku ini sudah lemas,tulang tulangku pergi dan menertawaiku,enyahlah kau di sini,begitu katanya,
tubuhku hancur di bawa hembusan angin ketidak berdayaan,
tapi dalam putaran putaran masa aku menemukan satu harapan,yang memaksa aku untuk berjuang.


Oleh: Iyang Wulan 10 oktober 2014

"Memiliki Yang Hilang" (Nur Azizah)

Memiliki yang Hilang

Saat Tuhan tuangkan waktu, itulah tanda zamharir memulai peraduannya
Meski waktu yang mengantarkan pada ara
Setidaknya ia mengerti bahwa harapannya telah menjadi debu dan sirna
Lantas bagaimana mungkin ia kehilangan apa yang tak menjadi miliknya ?
Ia memiliki kehilangan yang seharusnya tak menjadi miliknya
Tak adil, bukan ? bahkan ia masih memiliki ara
Penyesalan menganak sungai nan berbuih di samudra
Tapi ia tak cukup sempurna sekalipun ada nanar yang merenda matanya
Yang ia kira saat itu hanyalah… kehadirannya sebagai pelita
Hadirnya angin adalah simalakama meruntuhkan sukma dan memadamkan ia
Tapi mana mungkin ? karna ia ara
Ia meleleh perlahan dan menyatu dengan masa, ini bukan kemauannya
Ia melawan arus deras namun tak bisa
Dan waktu telah membuatnya tenggelam dan sulit untuk ia ada
Melankolis sebagai akhir sebuah fakta
Apakah ia harus berhenti terpaksa ?
Atau menahan arus dan menumpahkannya ke dalam samudera



Oleh: Nur Azizah #‎azirra2054‬

"CINTA" (Wuwune Wulan)

CINTA

cinta itu senbuah pegorbanan,bukan sebuah keserakahan.
cinta itu keiklsan bukan sebuah paksaan.
cinta itu sebuah pengertian bukanlah keegoisan.
cinta itu kedamaian bukan lah pemberontakan yang akan jadi bumerang.
ia adalah air,yg akn menjadi penyembuh bagi jiwa yg terlunta,jika kita biarkan ia mengalir dengan senada ia kan menjadian kedamaian,tapi jika arusnya terlalu besar ia bisa menjadi kepayahan.
bukankah tuhan telah berepesan jangan lah engkau berlebih lebihan dlm suatu urusan.
sesungguhnya Allah tk suka yg berlebihan apa lagi cintamu kepda dunia,jangn lah sampai menjadikan kita lupa akan kodrat kita sebagai seorang hamba.

cinta itu suci jangnlah kita kotori dengan keegoisan dan keserakahan,dan jangan di jadikan suatu alasan kejahatan.
baluti ia dngan kesabaran,kasih sayang,pengertian,dan pengorbanan.

Oleh: Wuwune Wulan (06 Oktober 2014)

"JEBAK" (Ilkhas Suharji)

"JEBAK"

Hubungan bangsa setan dengan dunianya
Berjalan dalam belantara kegelapan
Menggulirkan cahaya dengan kepedihan
Gerakannya adalah laku jujurnya nista

Iblis terus membisikiku akan indahnya kebatilan
Sedang angela menertawakanku cekikikan
Peripun beriku kekuatan lewat syahwat
Namun Tuhan hanya membisu bersama gurat duka
Medi-medi yang kadang menemaniku kini entah kemana?
Seakan tinggalkanku selewat jadinya maksiat
Bajingan laknat itu juga minggat tanpa pamitan
Tinggalkan kegalauan dalam kesendirian
Pilu aku lihat neracaku berberat dosa-dosa
Lalu sang kadi menyudutkanku hingga sesal terasa
Bangsat kau jahanam! Jangan makan aku dengan senyummu!
Tuhan! Aku minta maafmu!

Oleh: Ilkhas Suharji

(‪#‎CampPmii_061014‬)