Selasa, 06 Januari 2015

"Orang Abu-abu" (Erga Putra RA)

'Orang Abu-abu'

“Erga Putra… anu.. eh.. siapa ini? Ro…**tiit**(sensor)”
“hadir pak !!” sambil mengacungkan tangan.
“namanya rada aneh mas.. artinya apa ya?”
“gak tau pak, itu bapak saya yang ngasih.” Jawab gue, setengah memalingkan muka.
Orang tadi kemudian diam. Gue emang agak sewot kalau ada yang pengen tau masalah arti nama gue. Sampai sekarang masih jarang yang tau kenapa bisa nama gue dibuat seperti itu. Dan sekarang mungkin gue bakalan tetep gak ngasih tau. Kecuali kalo mau nyogok, berani nraktir gue makan sampe kenyang. Hak hak.
Dari kondisi di atas bisa dipastikan kegiatan di atas berada pada suasana presensi di dalam sebuah kelas. Tampak terlihat beberapa ekor (eeh..) orang-orang berbusana warna-warni. Yang cowok memakai baju beda-beda, ber-celana jeans ada yang celana bahan. Gue sendiri pake celana jeans hitam yang sudah 5 hari belum ganti. Yang cewek memakai baju berbeda-beda sesuai style masing masing, dan tak memakai celana. Mereka pake rok. Tampak sebagian mereka memakai jas berlogo.
Dari mereka ada yang berkacamata, banyak yang tidak. Ada yang ber’bra’ ada yang tidak (buseet.. tau dari mana!! rahasia). Hampir semua berkerudung kecuali yang cowok. Tapi gue termasuk yang cowok tapi berkerudung, karena saat itu gue pake jumper biru yang kerudungnya gue pake.
Terlihat duduk paling depan, orang yang beda dari lainnya. Dia kelihatan lebih tua dari yang lain. Terlihat dari wajah yang sudah agak berkeriput mirip ban serep yang sudah mulai aus. Ditambah memakai peci hitam yang katanya warisan sang presiden pertama. Menenteng tas hitam dari bahan kulit. (kayaknya dari kulit tokek dilihat dari warnanya). Lalu duduk menghadap lainnya. Sambil sesekali menggaruk keteknya.
“sudah siap semuanya” lantang ucapannya.
“SIIAAPP !!” jawab semuanya serentak keras menggelegar merusak gendang telinga.
“halaah.. siap u_u” gue dengan lemesnya.
“silahkan kelompok yang presentasi hari ini mempersiapkan diri” dengan wibawanya ngomong ke semua.
Gue cuek.
Beberapa manusia maju, kurang lebih 3 orang saat itu. Kemudian mereka mulai angkat suara. Dimulai dengan salam dan membacakan hasil kerja kelompok dengan sebuah tema ke muka yang lainnya.
Kemudian dilanjutkan dengan saling lempar tanya. Beberapa saling bergantian melontarkan pertanyaan. Gue cuma diam di belakang, ‘lendotan’ bangku, tangan gue taruh di kepala. Gue pejamkan mata. Dan merem saat itu juga.
Belum puas gue masuk ke alam tanpa jiwa. Belum sampe ngimpi juga. Padahal gue ngarep pengen mimpiin ‘dia’ (cihuii.. senyum sendiri). Terdengar nada bicara yang lebih keras dari sebelumnya yang membangukan sang macan-kepala-hitam dari bubu cantiknya.
“ada apa wok?” tanya gue ke Bawok.
“biasa kae, mulai ngotot..” jawab Bawok.
“ayo.. kita hentikan sebelum tempat ini jadi medan perang dunia selanjutnya!” tegas gue.
“goblok !! lo kira ini perang?” sambil tonyol kepala gue.
“ooh.. kita gak lagi perang to? Gue kira bentar lagi tuh orang ambil senapan terus nembak kepala kita. Kepala kita bolong. Otak merodol. Kita mati. Masih banyak dosa. Dan disiksa di neraka. Astaghfirulloh.. ” nyerocos gue pasang wajah blow on.
“aamiin..” Bawok meringis.
“dirimu kui yang mati dulu! aamiin..” gue.
“hahaha.. ya dirimu kui yang mati dulu. Goblok kok dipelihara.” Sahut Bawok.
Gue diam. Seperti mengiyakan perkataan Bawok barusan.
Lalu…
Hening hingga beberapa waktu berikutnya.
Sampai akhirnya, gue putar otak. "iya ya.. kayaknya kegiatan macam ini seperti sudah jadi tradisi, dan berkembang jadi budaya, setelah itu bakal dikenang sepanjang masa, dan diabadikan dalam sebentuk untaian kata tanpa makna kaya kata kata gue ini, tanpa makna, sekedar 'menga', bikin ngantuk pula (gue yang ngantuk)" di pikiran gue dengan ekspresi mikir mirip kura-kura amnesia.
Ya sudahlah.. gue ngerasa abu-abu soal budaya..
Intinya biar gitu aja.. gue mending lanjut ngorek kuping deh. barangkali nemu solusinya..

#301114
*maaf gue ngeblank

Tidak ada komentar:

Posting Komentar