Aksara Cintaku Terselip pada Budaya Menulis
Oleh: Yuli Astuti
“Hai Pesulap Kata!” Bisik penyihir Aksara dengan lembut ditelinganya
“Halo Penyihir, bagaimana kabar aksaramu?”
“Tidak begitu baik” jawab Penyihir lemah
“Kenapa?”
“Itu, karena salah satu dari aksaraku menghilang dan belum kembali jua”
“Bagaimana bisa?”
“Karena dulu, aku kurang menjaganya dengan baik”
“Aksara apakah itu?”
“Aksara cintaku pada kaum yang yang bernama Lelaki”
“Bolehkah aku menjadi pelengkap aksaramu?”
“…”
Sepenggal percakapan yang terjadi antara Pesulap kata Vs. Penyihir Aksara
***
Wajahnya yang indah, mulus, lugu dan imut... pertemuan pertama yang
membuatku terpesona dengannya, kulihat wajahnya serius mencari halaman
buku di depanku, senyuman yang terkembang dari mulutnya membiusku untuk
tetap menatapnya, mengagumi keindahan auranya. Air menetes lembut dari
kerudungnya yang basah, terlihat bajunya basah dengan badan yang sedikit
menggigil namun tetap senyum itu terkembang manis. Gerimis menemaniku
memandangnya.
Tawanya sedikit terdengar dengan tingkahnya yang
menggemaskan, tetesan air dari kerudungnya yang basah kini mengenai buku
yang ada di hadapannya, tangan mungilnya menjamah tetesan itu, berusaha
membersihkan dari buku. Aku hanya bisa menatap, memandangnya diam-diam
dari depan.
“Mas, fotocopy yang ini, sampai ini ya?” Katanya mengagetkanku dengan menunjuk beberapa halaman dari buku yang ia pegang.
“Ah..iya” Jawabku sedikit terkaget. “Ada lagi?”
“Sama yang ini mas” Kembali ia menunjuk beberapa halaman dari buku yang ia pegang
Selesainya:
“Berapa mas?”
“Seribu aja mbak”
“Ini” Katanya sembari menyerahkan uang sepuluh ribuan
“Ada uang yang kecil mbak? Belum ada kembaliannya ini”
“Nggak bawa mas, cuma bawa satu lembar uang sepuluh ribuan ini”
“Apa nanti kesini lagi aja?”
“Walah..nggak mas, rumah saya jauh dari sini, masa iya nanti kesini lagi...”
“Emang rumahnya mana mbak?” Tanyaku sedikit ada rasa penasaran mengusik
“Nun jauh disana” Jawabnya singkat
“Ya udah, dibawa dulu aja gak papa” Jawabku enteng
“Serius gak ada kembaliannya mas?”
“Beneran gak ada ini mbak”
“Ya udahlah, aku bawa dulu aja, mungkin besok-besok aku kesini lagi”
Katanya dengan senyum manis dan lesung pipit yang membuat hatiku
tiba-tiba bergetar, entah mengapa.
***
Mungkin lebih dari
seminggu aku menanti kedatangannya, entahlah… hampir saja aku
melupakannya, namun pagi ini senyum itu muncul kembali dengan
bunga-bunga pada kerudung yang dipakainya, dan beberapa tumpukan kertas
yang lumayan banyak dan beragam.
“Mau bayar hutang fotocopy yang kemaren mas” Katanya sembari mengeluarkan uang dari dompet pinknya
“Ah, si embak ini, masih inget aja”
“Iyalah mas, takut kebawa sampe akhirat” Jawabnya sambil tertawa manis
“Sama ngopy ini jadi 200 lembar ya” Katanya menambahkan sembari menyerahkan lembaran kertas padaku
“Acara apa ini mbak?” Tanyaku yang sempat melirik tulisan pada kertas yang ia sodorkan padaku.
“Oh, itu, acara sosialisasi di perpusda besok mas”
“Sosialisasi kepenulisan?”
“Iya, mau ikutan mas? Gratis lho…” Tawarnya padaku
“Wah, boleh ini, besok jam berapa, acaranya apa aja?”
“Besok jam 8 pagi, acaranya sekedar sosialisasi biar masyarakat disini
mau membudayakan menulis, pada ujungnya nanti, bisa melahirkan
penulis-penulis yang bisa mengeluarkan bakatnya, gitu aja si tujuan
awalnya, belum muluk-muluk banget” Ujarnya menerangkan padaku
“Oh, sip-sip…” Kataku sembari tetap melakukan pekerjaanku
“Jadi gimana ini mas? Mau ikutan?” Tanyanya, lagi.
“InsyaAllah mbak”
“Ok. Ajak temen-temennya ya mas!” Kembali ia dengan senyum manisnya
***
Tiga bulan sudah berlalu, tapi kurasa aku belum mengenalkan namaku,
juga namanya yang selama ini hanya berstatus “Mbak” dan “Mas” aja.
Ini nih, kenalin, namaku Pesulap Kata, yang siap merangkai kata-kata indah hanya dengan jentikan jariku, tolong dibantu ya…
Dan yang satu ini (nunjuk si dia), namanya Penyihir Aksara, yang selalu
membantuku, menyihir aksara demi aksara, membuat berbagai macam kata(!)
Entahlah, tapi seingatku, aku menemukan cinta, semenjak aku menulis dan
itu berlanjut saat aku terus membudayakan menulis dalam hidupku.
Semangat menulis kawan, barangkali kau akan menemukan cintamu pada aksara yang penuh warna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar