Selasa, 06 Januari 2015

"Ngaji" (Nur Azizah)

Ngaji

Senja kali ini mengundang gerimis yang berkepanjangan. Membawa hawa dingin tumbuh menjalar membuahkan rasa malas dan kantuk hinggap di waktu menjelang maghrib. Rasanya ingin duduk saja dengan kaki dibalut selimut hangat hingga membuatku lebih nyaman dengan kemalasan dan mata yang semakin berat ini. Apalagi seharian ini kesibukkan tak mengijinkanku memejamkan mata sebentar. “Sudah.. tidur saja Zah, waktu maghrib belum akan datang….”, beberapa kali bisikan-bisikan itu terdengar seakan memberiku lampu hijau untuk tidur. Tapi nyaris saja aku termakan bisikan setan, sesosok bidadari dengan basuhan air wudhu tengah mencipratkan tetesan wudhunya tepat di wajahku yang seketika membuatku kehilangan rasa kantuk karna terkejut.
Dia menyuruhku dengan nada datar. “Ayo nak, wudhu sana biar nggak ngantuk ! masa jam segini mau tidur.” Segera aku lakukan apa yang Ibu suruh padaku. Semakin dingin memang ketika ku basuhkan air wudhu di wajah tapi setelah itu usai ada rasa dingin lain yang tak mau hilang dan malah memudarkan kemalasan.
Seperti telah menjadi ritual wajib, waktu maghrib tepatnya setelah sholat maghrib sampai waktu isya adalah waktunya mengaji. Hari ini, bisa dibilang aku belajar menjadi pengajar mengaji di kediaman kakakku. Tak banyak yang datang, mungkin karna gerimis telah menjelma jadi hujan. Gemas rasanya mengajari mereka yang bandel dan malah sibuk sendiri. Ya, pemula sepertiku harus belajar lebih sabar mengatasi tingkah-tingkah lucu mereka. Ku lihat segores senyum menghias wajah kakakku sebagai respon dari rasa gemasku terhadap mereka.
Ketika peranku menjadi pengajar pemula telah usai, aku tergerak ke ruang yang paling ujung itu. Tempat sepupu kecilku melakukan banyak hal. “Udah ngaji belum Dek?” tanyaku padanya. Dia terlihat sedang asik sekali bermain permainan di hp dan tak menghiraukan pertanyaanku barusan. “Dek?...” aku memastikan bahwa dia mendengarkan aku. “Iih, apa sih Mbak.. iya, udah… udah… aku udah ngaji..” rautnya yang cemberut memperlihatkan bahwa ia merasa terganggu. Lantas, aku menanyainya lagi. “Ngaji sama siapa Dek, kan tadi Mbak sama Mas ngajarin teman-temanmu..”
Salma terdiam sejenak, lalu menjawab “Ngaji sendirilah…” jawab Salma kesal. “Emang tadi ngaji apa Dek?”saut Mas Aris sambil membuka pintu kamar milik Salma. Salma kembali terdiam, dan cemberut. “Ngaji sama mainan di hp Mas itu ?”sambung Mas Ari menyindir adiknya. Salma yang kehabisan kata-kata, segera membuka juz ‘amma miliknya dengan lantang dan kesal. “Salma kan udah gede, masa ngajinya nggak ikhlas sih.. lain kali nggak boleh gitu lagi ya..”sela Mas Ari dengan lembut, namun adiknya hanya mengangguk.
Waktu isya datang diiringi adzan yang berkumandang. Ingatan semasa aku seumur Salma pun mulai terbuka. Dulu, aku dan anak seumur Salma lainnya sangat suka mengaji di tempat ustadz, nggak peduli hujan apalagi gerimis karna sekaligus bisa bertemu dengan teman-teman, menikmati udara malam yang sejuk dan saling tukar cerita horor yang kadang membuatku takut pulang jika melewati jalan-jalan gelap atau sepi. Apalagi setelah mengaji bisa sholat bersama di mushola dekat rumah. Perubahan zamankah yang membuat semuanya berbeda? Ya, mungkin. Salma, dan kejadian tadi membuatku berpikir bahwa satu budaya mulai luntur karna zaman. Aku baru menemukan satu, entahlah bagaimana nasib yang lainnya. “Aku tak boleh membiarkan sesuatu seperti bola salju yang kecil terus menggelinding menjadi lebih besar, bukan?”


#‎madein_piyambak‬

Tidak ada komentar:

Posting Komentar