Selasa, 06 Januari 2015

"Kembali pada Nya" (Zulfa Nur Kholifah)

"Kembali pada Nya"

Saat semua yang kita miliki
Dan semua yang ada di dunia ini
Harus pergi dan kembali kepadaNya
Tak mampu kita menolak dan menggelayuti
Memang,semua itu titipan dariNya
Dan akan kembali pula padaNya
Termasuk kehadiran orang yang paling berharga bagi kita
Orang yang kita anggap paling mengerti kita
Merela juga akan kembali kepada sang pencipta
Dzat yang paling Agung dan berkuasa atas segalanya
Saat orang itu harus pergi
Hanya kenangan dan apa yang pernah ia torehkan
Perkataan nya
Perbuatan nya
Wejangan bijaksana darinya
Itulah yang akan jadi kenangan
Hanya itu yang akan tersisa
Dan balasan mu
Sebagai wujud kepedulian dan terimakasih mu
Adalah mewujudkan keinginan mulia
Yang belum sempat ia wujudkan

Kenangan terakhir saat ia pergi
Saat kamu belum mampu memberinya hadiah dari kesuksesanmu
Namun,sekarang yang ada di depanmu
Hanyalah jasad orang terkasihmu
Ia yang sudah kaku
Namun ia masih tersenyum
Dan berpesan kepadamu"teruslah berjuang dan berkarya"
Meski kamu tak mampu lagi menembus ruang dan alam keberadaan nya sekarang

"SESAL" (Sany Rachmawaty)

“Sesal”

Berawal dari anak kalem, supel dan tak mengenal dunia luar. Begitu mengenal laki-laki, inilah awal dari virusku. Sekolahku yang hancur, prestasiku yang tak pernah terukir lagi, malas belajar yang menghantui, itu semua karena satu penyebab “pacaran”. Ini adalah Virus yang sangat mematikan bagi pelajar. Tidak ada manfaat dan buang waktu. Aku yang rela berkorban untuk seorang pacar yang belum tentu jodohku, itu yang akhirnya kandas di tengah jalan adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan. Tertipu oleh mulut manisnya, tertipu dengan wajah yang menggelapkan dunia.
Satu penyesalanku yang mungkin takan pernah terganti. Kekecewaan yang mungkin akan mereka rasakan jika mereka mengetahui semuanya.ya.. mereka kedua orang tuaku. Tubuh yang penuh dengan noda dosa membuatku tak sanggup menjalani hidup ini. Kebohongan dan dusta yang dulu pernah terucap membuatku jijik pada diriku sendiri. Memori yang ada dalam otak ini ingin rasanya ku buang. Lumuran dosa yang mungkin membuat mereka terbanjiri olehku yang padahal mereka tak mengetahui dan melakukannya sama sekali. Oh Tuhan.. di dunia ini mungkin Kau masih menutupi aib ku, tapi di sana kelak apakah kau masih akan menutupinya atau bahkan menghapusnya?
Tuhan ya rabbku..sesungguhnya hamba hanya manusia biasa yang ingin bertaubat sungguh sungguh bertaubat. Tapi apalah daya, godaan yang sering menghampiri seakan membuat imanku luluh. Sedari kecil tak pernah pedulikan mereka,bahkan ketika mereka berpisah sekalipun aku belum pernah menjalankan pesannya dengan baik. Ingin menjadi anak yang sholeha, itu tujuanku saat ini. Pesan dari almarhumah ibuku agar aku tak lupa sholat, rajin mengaji, rajin sekolah itu belum sempurna aku lakukan. Pesan dari ayahku untuk menjadi seorang hafidzah belum sempurna aku lakukan. Mencoba menjadi wanita lebih baik dan dewasa saat ini langkah pendek yang akan aku lakukan. Tekadku untuk kesalahan yang dulu pernah ku lakukan, akan kujaga untuk tidak dan tak akan pernah terulang lagi. Impianku untuk menjadi wanita yang baik di akhirat untuk menolong kedua orang tuaku kelak.ya.. hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini. Impian tinggal di pondok masa kecilku kini terwujud. Mungkin ini jalan-Nya untukku menuju keridhoan-Nya.
Do’a ku:
ya Alloh..Sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kesehatan di dunia dan di akhirat.
Ya Alloh..Sesungguhnya aku mohon maaf dan keselamatan pada agama,dunia,keluarga dan hartaku.
Ya Alloh..tutupilah auratku, dan berikanlah keamanan dari rasa takutku,jagalah aku dari hadapanku, dari belakangku,dari sebelah kanan dan kiriku, ddan dari atasku. Dan aku berlindung dengan keagungan-Mu agar tidak celaka dari arah bawahku.aamiin


@Sansan_religius

"INGATLAH" (Sany Rachmawaty)

“INGATLAH”

Dalam ruang tertutup dia berhembus
Dikandung sembilan bulan
Dan..
Saat itu telah tiba
Dia lahir ke dunia
Ditimang, dimanja penuh kasih sayang
Dibimbing, diarahkan untuk jadi orang
Usianya beranjak dewasa
Tubuhnya tegap dan gagah bak prajurit nusantara
Bicaranya yang lantang mengagetkan dunia
Tapi sayang...
Rasa hormat t’lah luntur pada badannya
Pisau yang selalu menyayat hati orang tua
Lidah yang melinangkan air mata
Tamparan yang menjatuhkan mereka
Amarah dan hinaan yang dibalas senyuman
Tamparan dan umpatan yang dibalas dengan do’a
Itu merusak semua
Ingatlah...
jika suatu saat kau tak dapat lagi berbicara
saat tubuhmu tak mampu lagi berdiri tegap
saat tubuhmu yang tegap dimakan rayap
saat tulangmu tak lagi menyatu
saat tubuhmu terbaring dan tertutup tanah
saat kau ditidurkan untuk waktu yang lama
saat kau dibangkitkan dan tak berpakaian
saat tak seorangpun mengenalimu
saat dimana harus berkumpul di padang mahsyar
saat dimana dihisab dan ditimbang
maka ingatlah..
kita adalah manusia
manusia yang haus akan ibadah
manusia yang haus akan rasa syukur
manusia yang haus dan ingin jadi ahli syurga
manusia yang ingin menjadi ahli Qur’an
manusia yang tidak mau menyesal diakhir zaman
manusia yang tidak ingin melihat indahnya neraka
karena..
manusia menjunjung tinggi keagungan-Nya


@sansan_religius

"Aksara Cintaku Terselip pada Budaya Menulis" (Yuli Astuti)

Aksara Cintaku Terselip pada Budaya Menulis

Oleh: Yuli Astuti

“Hai Pesulap Kata!” Bisik penyihir Aksara dengan lembut ditelinganya
“Halo Penyihir, bagaimana kabar aksaramu?”
“Tidak begitu baik” jawab Penyihir lemah
“Kenapa?”
“Itu, karena salah satu dari aksaraku menghilang dan belum kembali jua”
“Bagaimana bisa?”
“Karena dulu, aku kurang menjaganya dengan baik”
“Aksara apakah itu?”
“Aksara cintaku pada kaum yang yang bernama Lelaki”
“Bolehkah aku menjadi pelengkap aksaramu?”
“…”
Sepenggal percakapan yang terjadi antara Pesulap kata Vs. Penyihir Aksara
***
Wajahnya yang indah, mulus, lugu dan imut... pertemuan pertama yang membuatku terpesona dengannya, kulihat wajahnya serius mencari halaman buku di depanku, senyuman yang terkembang dari mulutnya membiusku untuk tetap menatapnya, mengagumi keindahan auranya. Air menetes lembut dari kerudungnya yang basah, terlihat bajunya basah dengan badan yang sedikit menggigil namun tetap senyum itu terkembang manis. Gerimis menemaniku memandangnya.
Tawanya sedikit terdengar dengan tingkahnya yang menggemaskan, tetesan air dari kerudungnya yang basah kini mengenai buku yang ada di hadapannya, tangan mungilnya menjamah tetesan itu, berusaha membersihkan dari buku. Aku hanya bisa menatap, memandangnya diam-diam dari depan.
“Mas, fotocopy yang ini, sampai ini ya?” Katanya mengagetkanku dengan menunjuk beberapa halaman dari buku yang ia pegang.
“Ah..iya” Jawabku sedikit terkaget. “Ada lagi?”
“Sama yang ini mas” Kembali ia menunjuk beberapa halaman dari buku yang ia pegang
Selesainya:
“Berapa mas?”
“Seribu aja mbak”
“Ini” Katanya sembari menyerahkan uang sepuluh ribuan
“Ada uang yang kecil mbak? Belum ada kembaliannya ini”
“Nggak bawa mas, cuma bawa satu lembar uang sepuluh ribuan ini”
“Apa nanti kesini lagi aja?”
“Walah..nggak mas, rumah saya jauh dari sini, masa iya nanti kesini lagi...”
“Emang rumahnya mana mbak?” Tanyaku sedikit ada rasa penasaran mengusik
“Nun jauh disana” Jawabnya singkat
“Ya udah, dibawa dulu aja gak papa” Jawabku enteng
“Serius gak ada kembaliannya mas?”
“Beneran gak ada ini mbak”
“Ya udahlah, aku bawa dulu aja, mungkin besok-besok aku kesini lagi” Katanya dengan senyum manis dan lesung pipit yang membuat hatiku tiba-tiba bergetar, entah mengapa.
***
Mungkin lebih dari seminggu aku menanti kedatangannya, entahlah… hampir saja aku melupakannya, namun pagi ini senyum itu muncul kembali dengan bunga-bunga pada kerudung yang dipakainya, dan beberapa tumpukan kertas yang lumayan banyak dan beragam.
“Mau bayar hutang fotocopy yang kemaren mas” Katanya sembari mengeluarkan uang dari dompet pinknya
“Ah, si embak ini, masih inget aja”
“Iyalah mas, takut kebawa sampe akhirat” Jawabnya sambil tertawa manis
“Sama ngopy ini jadi 200 lembar ya” Katanya menambahkan sembari menyerahkan lembaran kertas padaku
“Acara apa ini mbak?” Tanyaku yang sempat melirik tulisan pada kertas yang ia sodorkan padaku.
“Oh, itu, acara sosialisasi di perpusda besok mas”
“Sosialisasi kepenulisan?”
“Iya, mau ikutan mas? Gratis lho…” Tawarnya padaku
“Wah, boleh ini, besok jam berapa, acaranya apa aja?”
“Besok jam 8 pagi, acaranya sekedar sosialisasi biar masyarakat disini mau membudayakan menulis, pada ujungnya nanti, bisa melahirkan penulis-penulis yang bisa mengeluarkan bakatnya, gitu aja si tujuan awalnya, belum muluk-muluk banget” Ujarnya menerangkan padaku
“Oh, sip-sip…” Kataku sembari tetap melakukan pekerjaanku
“Jadi gimana ini mas? Mau ikutan?” Tanyanya, lagi.
“InsyaAllah mbak”
“Ok. Ajak temen-temennya ya mas!” Kembali ia dengan senyum manisnya
***
Tiga bulan sudah berlalu, tapi kurasa aku belum mengenalkan namaku, juga namanya yang selama ini hanya berstatus “Mbak” dan “Mas” aja.
Ini nih, kenalin, namaku Pesulap Kata, yang siap merangkai kata-kata indah hanya dengan jentikan jariku, tolong dibantu ya…
Dan yang satu ini (nunjuk si dia), namanya Penyihir Aksara, yang selalu membantuku, menyihir aksara demi aksara, membuat berbagai macam kata(!)
Entahlah, tapi seingatku, aku menemukan cinta, semenjak aku menulis dan itu berlanjut saat aku terus membudayakan menulis dalam hidupku.
Semangat menulis kawan, barangkali kau akan menemukan cintamu pada aksara yang penuh warna

"Ngaji" (Nur Azizah)

Ngaji

Senja kali ini mengundang gerimis yang berkepanjangan. Membawa hawa dingin tumbuh menjalar membuahkan rasa malas dan kantuk hinggap di waktu menjelang maghrib. Rasanya ingin duduk saja dengan kaki dibalut selimut hangat hingga membuatku lebih nyaman dengan kemalasan dan mata yang semakin berat ini. Apalagi seharian ini kesibukkan tak mengijinkanku memejamkan mata sebentar. “Sudah.. tidur saja Zah, waktu maghrib belum akan datang….”, beberapa kali bisikan-bisikan itu terdengar seakan memberiku lampu hijau untuk tidur. Tapi nyaris saja aku termakan bisikan setan, sesosok bidadari dengan basuhan air wudhu tengah mencipratkan tetesan wudhunya tepat di wajahku yang seketika membuatku kehilangan rasa kantuk karna terkejut.
Dia menyuruhku dengan nada datar. “Ayo nak, wudhu sana biar nggak ngantuk ! masa jam segini mau tidur.” Segera aku lakukan apa yang Ibu suruh padaku. Semakin dingin memang ketika ku basuhkan air wudhu di wajah tapi setelah itu usai ada rasa dingin lain yang tak mau hilang dan malah memudarkan kemalasan.
Seperti telah menjadi ritual wajib, waktu maghrib tepatnya setelah sholat maghrib sampai waktu isya adalah waktunya mengaji. Hari ini, bisa dibilang aku belajar menjadi pengajar mengaji di kediaman kakakku. Tak banyak yang datang, mungkin karna gerimis telah menjelma jadi hujan. Gemas rasanya mengajari mereka yang bandel dan malah sibuk sendiri. Ya, pemula sepertiku harus belajar lebih sabar mengatasi tingkah-tingkah lucu mereka. Ku lihat segores senyum menghias wajah kakakku sebagai respon dari rasa gemasku terhadap mereka.
Ketika peranku menjadi pengajar pemula telah usai, aku tergerak ke ruang yang paling ujung itu. Tempat sepupu kecilku melakukan banyak hal. “Udah ngaji belum Dek?” tanyaku padanya. Dia terlihat sedang asik sekali bermain permainan di hp dan tak menghiraukan pertanyaanku barusan. “Dek?...” aku memastikan bahwa dia mendengarkan aku. “Iih, apa sih Mbak.. iya, udah… udah… aku udah ngaji..” rautnya yang cemberut memperlihatkan bahwa ia merasa terganggu. Lantas, aku menanyainya lagi. “Ngaji sama siapa Dek, kan tadi Mbak sama Mas ngajarin teman-temanmu..”
Salma terdiam sejenak, lalu menjawab “Ngaji sendirilah…” jawab Salma kesal. “Emang tadi ngaji apa Dek?”saut Mas Aris sambil membuka pintu kamar milik Salma. Salma kembali terdiam, dan cemberut. “Ngaji sama mainan di hp Mas itu ?”sambung Mas Ari menyindir adiknya. Salma yang kehabisan kata-kata, segera membuka juz ‘amma miliknya dengan lantang dan kesal. “Salma kan udah gede, masa ngajinya nggak ikhlas sih.. lain kali nggak boleh gitu lagi ya..”sela Mas Ari dengan lembut, namun adiknya hanya mengangguk.
Waktu isya datang diiringi adzan yang berkumandang. Ingatan semasa aku seumur Salma pun mulai terbuka. Dulu, aku dan anak seumur Salma lainnya sangat suka mengaji di tempat ustadz, nggak peduli hujan apalagi gerimis karna sekaligus bisa bertemu dengan teman-teman, menikmati udara malam yang sejuk dan saling tukar cerita horor yang kadang membuatku takut pulang jika melewati jalan-jalan gelap atau sepi. Apalagi setelah mengaji bisa sholat bersama di mushola dekat rumah. Perubahan zamankah yang membuat semuanya berbeda? Ya, mungkin. Salma, dan kejadian tadi membuatku berpikir bahwa satu budaya mulai luntur karna zaman. Aku baru menemukan satu, entahlah bagaimana nasib yang lainnya. “Aku tak boleh membiarkan sesuatu seperti bola salju yang kecil terus menggelinding menjadi lebih besar, bukan?”


#‎madein_piyambak‬

"Orang Abu-abu" (Erga Putra RA)

'Orang Abu-abu'

“Erga Putra… anu.. eh.. siapa ini? Ro…**tiit**(sensor)”
“hadir pak !!” sambil mengacungkan tangan.
“namanya rada aneh mas.. artinya apa ya?”
“gak tau pak, itu bapak saya yang ngasih.” Jawab gue, setengah memalingkan muka.
Orang tadi kemudian diam. Gue emang agak sewot kalau ada yang pengen tau masalah arti nama gue. Sampai sekarang masih jarang yang tau kenapa bisa nama gue dibuat seperti itu. Dan sekarang mungkin gue bakalan tetep gak ngasih tau. Kecuali kalo mau nyogok, berani nraktir gue makan sampe kenyang. Hak hak.
Dari kondisi di atas bisa dipastikan kegiatan di atas berada pada suasana presensi di dalam sebuah kelas. Tampak terlihat beberapa ekor (eeh..) orang-orang berbusana warna-warni. Yang cowok memakai baju beda-beda, ber-celana jeans ada yang celana bahan. Gue sendiri pake celana jeans hitam yang sudah 5 hari belum ganti. Yang cewek memakai baju berbeda-beda sesuai style masing masing, dan tak memakai celana. Mereka pake rok. Tampak sebagian mereka memakai jas berlogo.
Dari mereka ada yang berkacamata, banyak yang tidak. Ada yang ber’bra’ ada yang tidak (buseet.. tau dari mana!! rahasia). Hampir semua berkerudung kecuali yang cowok. Tapi gue termasuk yang cowok tapi berkerudung, karena saat itu gue pake jumper biru yang kerudungnya gue pake.
Terlihat duduk paling depan, orang yang beda dari lainnya. Dia kelihatan lebih tua dari yang lain. Terlihat dari wajah yang sudah agak berkeriput mirip ban serep yang sudah mulai aus. Ditambah memakai peci hitam yang katanya warisan sang presiden pertama. Menenteng tas hitam dari bahan kulit. (kayaknya dari kulit tokek dilihat dari warnanya). Lalu duduk menghadap lainnya. Sambil sesekali menggaruk keteknya.
“sudah siap semuanya” lantang ucapannya.
“SIIAAPP !!” jawab semuanya serentak keras menggelegar merusak gendang telinga.
“halaah.. siap u_u” gue dengan lemesnya.
“silahkan kelompok yang presentasi hari ini mempersiapkan diri” dengan wibawanya ngomong ke semua.
Gue cuek.
Beberapa manusia maju, kurang lebih 3 orang saat itu. Kemudian mereka mulai angkat suara. Dimulai dengan salam dan membacakan hasil kerja kelompok dengan sebuah tema ke muka yang lainnya.
Kemudian dilanjutkan dengan saling lempar tanya. Beberapa saling bergantian melontarkan pertanyaan. Gue cuma diam di belakang, ‘lendotan’ bangku, tangan gue taruh di kepala. Gue pejamkan mata. Dan merem saat itu juga.
Belum puas gue masuk ke alam tanpa jiwa. Belum sampe ngimpi juga. Padahal gue ngarep pengen mimpiin ‘dia’ (cihuii.. senyum sendiri). Terdengar nada bicara yang lebih keras dari sebelumnya yang membangukan sang macan-kepala-hitam dari bubu cantiknya.
“ada apa wok?” tanya gue ke Bawok.
“biasa kae, mulai ngotot..” jawab Bawok.
“ayo.. kita hentikan sebelum tempat ini jadi medan perang dunia selanjutnya!” tegas gue.
“goblok !! lo kira ini perang?” sambil tonyol kepala gue.
“ooh.. kita gak lagi perang to? Gue kira bentar lagi tuh orang ambil senapan terus nembak kepala kita. Kepala kita bolong. Otak merodol. Kita mati. Masih banyak dosa. Dan disiksa di neraka. Astaghfirulloh.. ” nyerocos gue pasang wajah blow on.
“aamiin..” Bawok meringis.
“dirimu kui yang mati dulu! aamiin..” gue.
“hahaha.. ya dirimu kui yang mati dulu. Goblok kok dipelihara.” Sahut Bawok.
Gue diam. Seperti mengiyakan perkataan Bawok barusan.
Lalu…
Hening hingga beberapa waktu berikutnya.
Sampai akhirnya, gue putar otak. "iya ya.. kayaknya kegiatan macam ini seperti sudah jadi tradisi, dan berkembang jadi budaya, setelah itu bakal dikenang sepanjang masa, dan diabadikan dalam sebentuk untaian kata tanpa makna kaya kata kata gue ini, tanpa makna, sekedar 'menga', bikin ngantuk pula (gue yang ngantuk)" di pikiran gue dengan ekspresi mikir mirip kura-kura amnesia.
Ya sudahlah.. gue ngerasa abu-abu soal budaya..
Intinya biar gitu aja.. gue mending lanjut ngorek kuping deh. barangkali nemu solusinya..

#301114
*maaf gue ngeblank

"SOSOK" (Chandra Purnama)

SOSOK

ku rayapi sekujur kesepianku
mengundang angan dan semangat kumbang
mata bintang yg diam dan berkelesatan
menyuguhi harapan di semesta lenggang
sampai kasih dan ingin terbentang
membujuk pengembara merakah
yang tenggelam di bawah kubang resah
menanti dara cantik yg telah datang
membujuk arah pengembara merambah
terus mewangi aroma bunga cinta sampai ujung hari
membangkitkan gairah sang pencinta dalam darah
yang menentangkan kesenyapan sendiri
ku temukan perempuanku
dalam batas asa ku mengagumi sosok diri

By: Candra Purnama, 11 November 2014

"la tahzan,innallaha ma'ana" (Zulfa Nur Kholifah)

hal yang sangat mudah ketika kita berpaling dari orang yang hanya bisa menorehkan luka bagi kita,
tidak perlu kita sesali
mungkin karena kelengahan kita
atas segala kebaikan,dan kepolosan nya
ternyata semua it modus
yang tidak mudah
adalah berpaling dari sang pencipta
yang sesungguhnya DIA lah yang selalu ada
dalam keadaan dimanapun dan bagaimanapun kita
tidak perlu merasa sakit yang berkepanjangan
ketika ada orang yang berdusta kepadamu
justru,bersyukurlah
karena sesungguhnya
dibalik satu masalah itu ada seribu kebaikan untukmu


By: Zulfa Nur Kholifah, 9 November 2014

"Air Mata Dulu" (Iyang Wulan)

AIR MATA DULU

Dulu orang-orang itu,
ada yang aku tahu dan yang tak aku tahu.
mereka yang bergulat di hantam oleh pemburu dunia,
mereka yang selalu di selimuti ketakutan,bermandikan darah dan makan angin-angin lalu.
mereka yang iklas membakar jiwa demi negeri dan anak cucu tercinta.
mereka yang rela di hujam,di pasung hingga tubuh jadi sarang peluru.
mereka yang rela air mata dan kekhawatiranya jadi teman setia.
mereka itu,
pengorbanan itu,
darah itu,
dan air mata itu,
seperti tak berharga di masa kini,
sekarang,
orang-orang itu,
yang selalu berjuang,hanya demi diri sendiri,
demi nama yang tiada arti,
demi harta dan tahta dan rela membutakan hati.
orang-orang itu,
yang selalu memutarkan lidah,menghasut,berjanji manis,menfitnah dan munafik,
yang melupakan atau sengaja melupaka,
pedih dan derita dari masa lalu.
tak sadar kalian mahkota yang kalian pegang itu dari tulang-tulang yang telah kalian lupakan.
tak sadar kalian kursi itu,meja itu,bahtera
yang kalian pegang saat ini adalah nyawa-nyawa,yang melayang tak berharga.
tolonglah sadari wahai kalian yang sekarang ada di kursi kejayaan.
jangan kalian buang sisa-sisa darah dari para pejuang nyawa.
karena berapa pun nyawa yang akan kau ganti tak cukup untuk membayar satu nyawa di masa lalu.


By: Iyang Wulan, 4 November 2014

"AMAL" (Sany Rachmawaty)

AMAL

Hai umat manusia
Ketika kau hidup,ketika kau sehat, kau selalu mengacuhkanku
Kau menduakanku,Kau melupakanku
Kau asik dengan duniamu tanpa pedulikanku
Wahai makhluk Tuhan
Kau tak pernah membawaku ketempat damai
Kau tak pernah mengantarkanku ke rumah jompo
Kau tak pernah menemukanku dengan rumah yatim piatu
Kau tak pernah memasukkanku ke kotak yang bernama sedekah di menara masjid
Temanmu tak akan menemanimu sampai kubur
Pacarmu yang kau puja pun tidak
Bahkan gadget yang kau idamkan pun tidak
Wahai para kholifah
Apakah kau tahu, teman sejatimu itu aku
Aku amalmu yang patutnya kau kenali dalam dirimu sendiri
Meski kau sering melupakanku, aku tak pernah benci padamu
Berharap kau pedulikanku, tapi itu semua fana
Dan bila waktu telah memanggil
Jangan salahkanku,jika aku tak bisa menolongmu, jika aku tak bias bersamamu
Dan jika aku pergi dan tak pedulikanmu


By:Sany Rachmawaty, 4 November 2014